Peradaban itu Lahir dari Pangkuan Seorang Perempuan
Hartini Dg. Saido, M. H
Pendahuluan
Tulisan ini dibuat bukan sebagai sebuah tuntutan hak emansipasi wanita. Atau sekedar mengenang sejarah yang sarat dengan kisah religius ibu dan keibuan yang dilekatkan pada “Hajar” istri Nabi Ibrahim, ibu Nabi Ismail.
Tulisan ini ingin dipahami sebagai sebuah upaya menempatkan dan memposisikan perempuan, ibu dan keibuan sesuai fungsi dan perannya sebagai kodrat yang telah ditentukan Allah baginya.
Di balik sejarah besar umat manusia, ada sosok perempuan yang kerap terabaikan, tersembunyi, yang tak selalu disebut dalam lembaran resmi peradaban. Karena mereka bukan raja, bukan jenderal, bukan tokoh politik yang berdiri di podium kekuasaan, bukan tokoh pelaku sejarah yang diagungkan. Bahkan perannya masih diperdebatkan, disudutkan, didomestikasi dengan membawa dalil syar'i. Tapi sesungguhnya mereka adalah tiang-tiang kehidupan, para penjaga nilai, para penanam benih masa depan. Dari pangkuan mereka lahir peradaban manusia.
Satu dari sekian banyak kisah tentang perempuan, ibu dan keibuan yang menyentuh—yang namanya abadi dalam ritus suci umat Islam—adalah Siti Hajar.
Siti Hajar tidak disebut namanya dalam Al-Qur’an, tapi amalnya diabadikan dalam rukun ibadah. Namanya mungkin tak tercatat dalam mushaf, tetapi jejak langkahnya diabadikan dalam hati umat Muslim.
Dari rahim Siti Hajar lahir Nabi Ismail, dari keturunan Ismail lahir Nabi Muhammad SAW. Hajar bukan hanya ibu seorang nabi, tetapi ibu dari garis kerasulan. Kesetiaannya pada Allah menjadikan namanya harum dalam sejarah keimanan. Ritual sa’i adalah bukti bahwa pengorbanan seorang ibu telah dijadikan bagian dari ibadah mahdhah.
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِۚ
(Tentang ibadah Sa’i antara Shafa dan Marwah: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.” (QS al Baqarah 2:158)
Keimanan dan Pengorbanan
Siti Hajar bukan hanya seorang ibu. Ia adalah simbol. Ia adalah awal mula dari sebuah peradaban spiritual yang hari ini menjadi arah kiblat jutaan manusia.Hingga hari ini, jutaan Muslim menapak jejak Siti Hajar dalam ibadah sa’i—berlari antara Shafa dan Marwah sebagai bagian dari haji dan umrah. Ini bukan ritual kosong, melainkan pengulangan simbolik dari cinta, doa, dan pengorbanan seorang ibu salehah. Dalam kisahnya, kita menemukan benih peradaban yang tumbuh bukan dari ambisi duniawi, tetapi dari cinta, pengorbanan, dan keteguhan iman.
Ketika Ibrahim diperintahkan oleh Tuhan untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah tandus yang kala itu belum bernama, ia tidak membantah. Dan Hajar, perempuan yang tak diberi penjelasan panjang oleh suaminya, juga tidak menolak. Kalimatnya sederhana, namun mengguncang makna: “Apakah ini perintah dari Tuhanmu?” Dan saat Ibrahim mengangguk, ia menjawab penuh iman, “Jika begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Bayangkan, seorang perempuan ditinggal sendirian di padang tandus, hanya ditemani bayi yang belum bisa bicara, dengan sekarung air dan sepotong bekal. Tapi dari kesunyian itulah, Hajar melahirkan harapan. Ketika air habis dan anaknya menangis kehausan, ia tak duduk pasrah. Ia bangkit. Ia berlari antara dua bukit—Shafa dan Marwah—bukan sekali, tapi tujuh kali. Di bawah terik matahari, di atas pasir panas, ia berjuang. Setiap langkah adalah penolakan terhadap keputusasaan. Setiap napas adalah perlawanan terhadap rasa takut.
Lalu, dari titik itulah, datanglah karunia: air Zamzam memancar dari bawah kaki Ismail. Air itu menjadi tanda, bahwa langit mendengar jerit perempuan. Bahwa perjuangan seorang ibu adalah ladang yang disirami langsung oleh rahmat Tuhan. Dari mata air itu, kafilah-kafilah mulai datang. Lembah itu hidup. Dan Makkah pun perlahan tumbuh menjadi kota. Tempat yang kelak menjadi pusat peradaban tauhid.
Siti Hajar sebagai Arketipe Ibu Beriman
Siti Hajar bukan hanya ibu biologis dari Nabi Ismail. Ia adalah ibu spiritual peradaban Islam yang besar dan jaya:
- Ia melambangkan kesabaran dalam keterasingan.
- Ia adalah wujud keteguhan dalam perpisahan.
- Ia simbol perempuan yang beriman penuh pada qadha dan qadar Allah, tetapi tetap berusaha.
Dalam tafsir QS. Ibrahim:37, ulama menyebut bahwa doa Nabi Ibrahim agar anak dan istrinya diberi keberkahan adalah bentuk pengakuan atas perjuangan dan keutamaan Hajar:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ …
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman…” (QS. Ibrahim: 37)
Dimensi Spiritualitas Keibuan Siti Hajar merepresentasikan arketipe ibu mukminah: sabar, tawakkal, dan penuh pengorbanan. Tidak hanya sebagai pelindung anak secara fisik, tetapi juga sebagai penguat nilai tauhid dan kesetiaan kepada Allah. Dalam tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Tabari, peristiwa sa’i ditafsirkan sebagai simbol perjuangan manusia dalam mencari pertolongan Tuhan tanpa menyerah.
Relevansi Sosok Siti Hajar di Era Modern. Dalam konteks sosial kontemporer, figur Siti Hajar merepresentasikan perjuangan perempuan dalam menghadapi keterasingan, ketidakpastian, dan keterbatasan sumber daya. Ia adalah simbol kekuatan perempuan dalam membangun harapan meski dalam kesunyian. Di tengah budaya patriarkal yang kerap meminggirkan peran perempuan, Siti Hajar justru ditampilkan dalam Islam sebagai pusat awal kemakmuran spiritual dan sosial Makkah.
Keteladanan Hajar juga mengajarkan pentingnya kolaborasi antara iman dan ikhtiar: ia berdoa kepada Allah, tetapi juga terus berusaha. Ini sangat relevan dengan konteks perempuan modern yang dituntut untuk kuat secara spiritual sekaligus mandiri dalam tindakan. Lebih jauh, nilai-nilai yang dibawa Siti Hajar menjadi dasar pendidikan karakter, khususnya bagi para ibu dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bertauhid.
Relevansi Keteladanan Siti Hajar dalam Pendidikan Anak
Siti Hajar menjadi teladan dalam pendidikan anak yang berlandaskan tauhid, kemandirian, dan ketangguhan. Sejak usia dini, Ismail dibesarkan di lingkungan yang keras, tetapi dibingkai dengan nilai iman dan kesabaran. Peran Hajar dalam membentuk karakter Ismail menjadi salah satu indikator penting bahwa pendidikan anak dalam Islam tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga spiritual dan moral. Bahwa orientasi dari sebuah pendidikan bukan melulu mengejar materi, jabatan ataupun status sosial.
Sikap Hajar yang tenang, sabar, dan penuh keyakinan saat ditinggalkan Ibrahim AS, serta usahanya yang tak kenal lelah mencari air, adalah bentuk pendidikan lewat keteladanan (uswah hasanah). Ini selaras dengan konsep pendidikan dalam Islam yang menekankan bahwa akhlak orang tua menjadi media utama dalam membentuk kepribadian anak.
Dalam konteks modern, pendidikan anak yang menekankan kepercayaan kepada Allah, usaha yang sungguh-sungguh, serta kesabaran menghadapi tantangan hidup adalah warisan yang sangat relevan. Siti Hajar mengajarkan bahwa membesarkan anak bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang membangun ketahanan spiritual dan integritas moral.
Kesimpulan
Siti Hajar adalah figur ibu spiritual yang tak hanya mendidik anaknya dengan cinta, tapi juga mempersembahkan keimanan dan tawakkal sebagai warisan abadi. Dalam konteks sejarah Islam, ia adalah pelopor perempuan yang menjadi sumber peradaban tauhid. Sosoknya patut dijadikan teladan, khususnya dalam membangun karakter ibu yang beriman dan tangguh di era modern, serta dalam membentuk generasi yang berakhlak dan berjiwa tauhid melalui pendidikan rumah tangga.
Dia adalah pelita bagi setiap ibu yang sedang diuji. Bahwa cinta kepada anak tidak lepas dari iman kepada Allah. Bahwa kesabaran, ketika dibingkai oleh keyakinan, menjadi pintu turunnya keberkahan.
Siti Hajar tidak membangun istana, tidak memimpin pasukan, tidak menulis kitab suci. Tapi dari rahimnya, lahir Ismail. Dan dari garis keturunannya, lahir Nabi Muhammad. Peradaban Islam, dengan seluruh kontribusinya bagi dunia—ilmu, seni, hukum, filsafat, akhlak—berakar dari rahim seorang perempuan yang dipilih Tuhan untuk menapaki padang ujian.
Perjuangan Siti Hajar membalikkan cara pandang dunia. Ia mengajarkan bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, tapi poros kehidupan. Bahwa kekuatan bukan sekadar milik para lelaki bersenjata, tapi juga milik seorang ibu yang berani menghadapi sunyi dan tak gentar menatap masa depan.
Bahkan hingga hari ini, dalam ibadah haji, umat Islam diwajibkan menapaktilasi jejak langkahnya. Lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah bukan sekadar simbol, tapi penghormatan atas perempuan yang membuktikan bahwa peradaban sejati dibangun dari iman, kasih sayang, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Peradaban itu memang tidak lahir dari keramaian kota atau kerlap-kerlip istana. Ia lahir dari pangkuan seorang ibu yang sabar. Ia tumbuh dari dekapan perempuan yang berani. Ia mengalir dari air susu yang penuh doa. Maka tidak berlebihan jika kita berkata: peradaban itu lahir dari pangkuan perempuan.
Siti Hajar adalah kisah yang tak lekang. Dan selama manusia masih mencari makna tentang asal-muasal peradaban, selama itu pula kisahnya akan terus hidup. Di hati, di sejarah, dan di tapak kaki mereka yang menapak antara Shafa dan Marwah—mencari jejak cinta seorang ibu, dan menemukan asal mula peradaban.
Begitu besar peran ibu dan keibuan yang ditampilkan Siti Hajar. Menjadi refleksi bagi ibu masa kini dan menjadi pengingat buat kita semua. Tidak masalah jika ada perempuan saat ini berada diantara dapur, sumur dan kasur. Tetapi yang harus dipahami dimanapun ia berada sosoknya bisa menembus batas dan waktu, sebagai perangkai sejarah, dari rahimnya tumbuh benih masa depan, dari pangkuannya lahir peradaban manusia. Perempuan ada sesuai peran dan fungsi karena kodrat yang telah ditentukan baginya. Wallahu a’lam.
Referensi:
- Al-Qur'an, Surah Ibrahim (14), surah Al-Baqarah (2): 158
- Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an al-Azim, penafsiran tentang Surah Ibrahim dan kisah Hajar dan Ismail.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Al-Anbiya, Bab Kisah tentang (lembah) Makkah — hadits tentang asal mula air Zamzam.
- Muhammad Asad, The Message of The Qur'an (1980), catatan tentang latar belakang sejarah ritual Sa’i dan keberadaan Siti Hajar.
- Karen Armstrong, A History of God (1993), bagian tentang peran spiritual perempuan dalam sejarah agama-agama besar.