Tragedi Cemetuk: Luka Berdarah Kekejian PKI di Banyuwangi
muslimatdewandakwah
Oleh: Syarifah Syahidah
Peristiwa kelam tahun 1965 masih meninggalkan jejak luka yang dalam di hati bangsa Indonesia. Salah satunya terjadi di Dusun Krajan, Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada 18 Oktober 1965. Tragedi ini menjadi saksi bisu kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap umat Islam, khususnya para kader Banser dan Ansor Nahdlatul Ulama.
Menurut catatan lokal, peristiwa Cemetuk tidak langsung muncul begitu saja, melainkan melalui rangkaian insiden yang memanas. Sekitar 11 Oktober 1965, dusun Cemetuk sudah menjadi salah satu tempat pelarian PKI dan simpatisannya, terutama ketika muncul isu bahwa PKI akan ditumpas setelah peristiwa G30S di Jakarta. Kemudian pada 12 Oktober 1965, Pemuda Rakyat dari PKI dilaporkan melakukan penyekapan terhadap 28 orang anggota PNI dan Pemuda Demokrat yang sedang rapat, sebagai bagian dari eskalasi kekerasan menjelang tragedi puncak.
Tipu Daya PKI Berkedok Pengajian
Warga Cemetuk saat itu mendapat undangan pengajian yang mengatasnamakan NU. Undangan tersebut ternyata jebakan licik yang disusun oleh Matulus, Lurah Desa Cemetuk sekaligus tokoh PKI setempat.
Para kader PKI dan Gerwani menyamar sebagai anggota Banser dan Fatayat. Sebagian mengenakan kerudung hijau khas Fatayat, bahkan melantunkan shalawat di panggung. Suasana pengajian berjalan normal, penuh kebersamaan, hingga akhirnya ditutup dengan acara makan besar. Tak ada sedikit pun kecurigaan.
Namun, racun yang dimasukkan dalam hidangan mulai bekerja. Warga yang hadir, mayoritas kader Ansor dan Banser, mendadak kejang-kejang, merintih kesakitan, lalu roboh tak berdaya. Para Gerwani yang tadi bershalawat, berubah wujud. Mereka menertawakan korban yang sekarat, sambil menyanyikan lagu “Genjer-genjer”, lagu propaganda PKI yang menjadi ciri khas mereka.¹
Jagal Massal di Rumah Mangun Lehar
Puncak peristiwa terjadi pada 18 Oktober 1965, ketika rombongan pemuda Ansor dari Kecamatan Muncar yang hendak menuju Kecamatan Kalibaru dengan menggunakan beberapa truk dihadang oleh kelompok yang diduga PKI di daerah Karangasem (sekarang menjadi Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran). Mereka kemudian dikuasai, disiksa, dan dibawa ke Cemetuk, di mana mereka kemudian dibantai secara massal dan jasadnya dikuburkan dalam tiga lubang kubur massal yang kini dikenal sebagai Lubang Buaya Cemetuk atau Monumen Lubang Buaya.
Menurut saksi hidup, korban yang masih hidup digelandang ke rumah Mangun Lehar, seorang dedengkot PKI lainnya. Di sanalah pembantaian keji dilakukan.
Sebanyak 62 orang kader Ansor dan Banser disiksa, dicacah, dimutilasi dengan kejam. Perempuan Gerwani pun ikut menari, menyanyi, seolah berpesta di atas penderitaan manusia. Darah mengalir deras memenuhi rumah Mangun Lehar, menjadi saksi kebengisan ideologi yang meniadakan nilai kemanusiaan.²
Lubang Kubur Massal
Jenazah korban kemudian dikuburkan dalam tiga lubang besar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ukuran lubang dan proporsi korban juga tercatat: satu lubang besar kira-kira 2×7 meter berisi sekitar 42 jenazah, dua lubang lainnya masing-masing sekitar 2×3 meter menampung 10 jenazah per lubang, total sekitar 62 orang peristiwa ini tercatat dalam monumen setempat. Hingga kini, lubang-lubang itu masih ada di Desa Cemetuk, menjadi monumen alamiah tentang betapa sadisnya kekejaman PKI.³
Setelah peristiwa pembantaian, sisa-sisa organisasi PKI di kawasan Dusun Cemetuk turut ditindak oleh aparat militer. Berdasarkan laporan warga, pada tanggal 21 Oktober 1965 terjadi operasi penumpasan terhadap anggota PKI yang masih tersisa di dusun tersebut, dipimpin oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sejak itu, lokasi pembantaian berubah menjadi situs peringatan.
Untuk mengenang peristiwa berdarah ini, dibangun Monumen Pancasila Jaya di Desa Cemetuk. Monumen berbentuk burung Garuda besar yang memuat nama-nama 62 korban, serta relief pembunuhan keji itu. Juga ditandai dengan tiga makam massal yang disebut sebagai “lubang buaya” Cemetuk.⁴
Pelajaran Bagi Bangsa
Peristiwa Cemetuk mengingatkan kita pada beberapa hal penting:
- PKI tidak pernah memiliki belas kasih. Tipu daya dengan kedok agama membuktikan liciknya mereka menghancurkan umat Islam.
- Korban adalah pahlawan. Mereka gugur bukan hanya karena berbeda pandangan politik, melainkan karena mempertahankan keyakinan dan identitas keislaman.
- Jangan pernah melupakan sejarah. Ada wacana untuk merehabilitasi nama PKI dan anggotanya. Jika itu terjadi, betapa perih hati para anak-cucu korban yang telah kehilangan ayah, kakek, dan saudaranya dalam tragedi keji ini.
Bangsa yang melupakan sejarahnya akan mengulang kembali kesalahannya. PKI telah tercatat dalam tinta merah sejarah Indonesia sebagai pengkhianat bangsa. Maka, tugas kita semua adalah menjaga ingatan sejarah, agar kekejaman itu tak pernah terulang lagi.
*Disusun oleh Syarifah Syahidah: Daiyah MC Muslimat Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII)
Catatan Kaki
- Keterangan tentang penyamaran PKI dan Gerwani, serta peran lagu Genjer-genjer, terdapat dalam arsip kesaksian warga Banyuwangi yang dihimpun oleh tim peneliti NU dan Lembaga Saksi Sejarah.
- Kesaksian penyintas tragedi Cemetuk, dikutip dalam buku Tragedi Berdarah PKI di Banyuwangi, terbitan Yayasan 1965, Banyuwangi.
- Dokumentasi situs makam massal Cemetuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
- Monumen Pancasila Jaya diresmikan sebagai pengingat tragedi pembantaian PKI di Banyuwangi, data dapat dilihat pada catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.