Kesehatan Integratif dalam Perspektif Islam
Dr. Meity Elvina, M.Ked (OG), SpOG, PDCert
Dari Kitab Ad Daa’ Wa Ad Dawaa’ karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, Ibnu Qayyim menjawab pertanyaan seseorang yang bertanya tentang bagaimana penjelasan para ulama dan para imam, tentang ujian, cobaan atau musibah berupa penyakit yang kalau musibah ini terus menerus ada pada dirinya maka akan menghancurkan dunia dan akhiratnya. Dia sudah berusaha untuk menolak dan menepisnya dengan semua cara yang mampu dia lakukan. Tapi ternyata penyakit itu semakin bertambah parah dan penderitaannya bertambah berat, maka bagaimana cara menghilangkannya berdasarkan penjelasan dan bimbingan orang-orang yang berilmu?
Pertanyaan di atas merupakan pertanyaan tertulis yang kemudian dijawab oleh Imam Ibnu Qayyim yang kemudian menjadi obat bagi penyakit hati dan menjadi kitab yang terkenal sampai saat ini, dan InsyaAllah kita bisa mengambil manfaatnya. Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjawab: Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).
Bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya dari sisi Allah SWT. Maka kita tidak perlu khawatir. Penyakit dalam urusan-urusan jasad (fisik) manusia saja Allah turunkan obatnya, apalagi penyakit hati (qolbu) yang berhubungan dengan benarnya keimanan seseorang yang mempengaruhi rasa kasih sayang, takut dan berharapnya hanya kepada Allah SWT, maka tidak mungkin Allah SWT meluputkannya bagi hamba-hamba Nya..
Ini merupakan wujud dari sempurnanya rahmat Allah SWT kepada hamba-hambaNya. Maka, orang-orang yang beriman sangat beruntung karena mereka ketika jatuh sakit pasti akan semakin dekat dengan sumber rahmat Allah yang maha sempurna yaitu kitabullah Al-Qur’an, dan juga semakin mengamalkan hadits-hadits shahih yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Dalam Islam, kita meng-imani bahwa ketika Allah SWT menurunkan suatu penyakit maka sekaligus Allah SWT menurunkan obatnya. Dan suatu penyakit dapat sembuh karena atas izin Allah SWT.
Untuk itu, manusia yang berakal dan beriman (ulul albab) harus terus berusaha mencari obat yang tepat dengan terus memanfaatkan potensi akalnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan yang didasarkan kepada sumber ilmu hakiki yakni Al Quran dan As-sunnah.
Secara aqliyah, ilmu pengobatan islam didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung dan tidak dapat dipisahkan selagi manusia itu masih hidup, yakni substansi jasmani (fisik) dan ruhani (qolbu). Sehingga penyakit pun bukan hanya penyakit jasmani (fisik) saja, namun juga penyakit ruhani (qolbu) yang bisa terjadi karena lemahnya iman, syahwat, syubhat, sehingga jatuh pada kemaksiatan dan jauh dari rahmat Allah SWT.
Latar belakang tersebut melahirkan ikhtiar pengobatan terhadap dua substansi jasmani dan ruhani yakni berupa dua jenis obat yang dianggap sebagai "wasilah" penyembuhan penyakit. Dengan tidak melupakan bahwa Dzat yang berhak menyembuhkan segala penyakit hanyalah Allah azza wa jalla.
Pengobatan yang dijadikan "wasilah" sebagai penyembuhan penyakit ada dua kategori, yaitu.
(1). Obat hissi untuk penyakit jasmani (fisik), seperti ikhtiar minum madu, hijamah (bekam), mengkonsumsi makanan halal dan thayyib yang tidak berlebih-lebihan, serta mengutamakan jenis makanan/minuman (air, buah-buahan, sayur mayur, biji-bijian, hewan ternak, susu, dll) yang sesuai dengan tuntunan Qur'an dan Sunnah.
(2). Obat ma’nawi untuk penyakit ruhani (Qolbu), melalui ikhtiar menguatkan akidah, ibadah fardu dan sunnah, sholat, dzikir, baca Quran, berpuasa, sadaqah, serta doa-doa dari Al Quran (rukyah syar'iah).
Penyakit Ruhani (qolbu) berhubungan dengan "fitrah nafs", dimana aspek ruh menjadi esensi dari qolbu manusia. Demikian juga penyakit jasmani (fisik) yang merupakan fungsi aktualisasi dari aspek ruhani. (Contohnya : ketika qolbu seseorang dipenuhi perasaan cemas berlebihan yang tidak disertai dengan tawakal kepada Allah SWT, maka dampak aktualisasi pada fisik/jasmani-nya timbul gangguan keseimbangan hormon stress yang meningkat yang lama kelamaan menyebabkan terjadinya penyakit ginjal-hipertensi, jantung dll).
Secara aqliyah, peristiwa ini mendasari konsep pengobatan yang integratif melalui pendekatan kedua ikhtiar pengobatan hissi (jasmani/fisik) dan ma’nawi (ruhani/qolbu).
Dewasa ini, seiring berkembangnya ilmu kedokteran modern, sepatutnya para dokter muslim ketika membahas aspek ilmiah kesehatan tidak terlepas dari aspek ilahiyah.
Tinjauan dari sudut pandang islam, bahwa Ilmu Kesehatan integratif dalam satu dekade ini semakin berkembang di dunia barat, sebenarnya pengobatan Islam telah lebih dulu mengajarkannya sejak berabad-abad yang lalu. Andai para dokter muslim/muslimah di abad modern ini mau terus menggalinya, maka InsyaAllah angka kejadian penyakit tidak akan terus bertambah.
Ilmu Kesehatan integratif di abad modern bertujuan menganalisa dan mengatasi penyebab penyakit (akar masalah) menggunakan pendekatan personal yang berorientasi kepada sistem pengobatan integratif (holistik). Bentuk pelayanan kesehatan ini memandang bahwa setiap individu itu unik, baik secara fisik maupun non fisik (psikis) apabila ditinjau dari perspektif ilmu genetika, epigenetika dan "bio-inorganic-chemistry" yang menyusun keseimbangan sistem organ tubuh manusia.
Praktisi kesehatan yang merujuk kepada ilmu Kesehatan integratif memperhitungkan seluruh riwayat seseorang yang menjadi akar masalah kesehatannya. Akar masalah tersebut meliputi faktor fisik dan non fisik (psikis) diantaranya: faktor nutrisi, lingkungan, gaya hidup, spiritualitas, stres emosional, yang berdampak kepada profil genetik dan epigenetik yang berperan penting terhadap kesehatan jangka panjang.
Akar masalah kesehatan dari multifaktor (fisik dan non fisik) inilah yang dianggap sebagai penyebab timbulnya berbagai gejala penyakit. Bahkan jika berbagai akar masalah kesehatan tersebut diabaikan, maka gejala-gejala ini akan terus menetap dan menimbulkan berbagai penyakit dari berbagai sistem organ tubuh.
Pendekatan Kesehatan integratif semakin banyak dianut oleh kedokteran barat saat ini. Bahkan menjadi spesialisasi khusus di bidang kedokteran barat. Kesehatan integratif mendukung sistem dan mekanisme penyembuhan tubuh secara integratif (holistik) karena memandang tubuh sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan berjalan dengan seimbang dan harmoni antara faktor fisik dan non fisik (psikis). Sehingga Kesehatan integratif memberikan terapi tidak hanya terbatas pada sistem organ tertentu (fisik) yang telah sakit saja, namun juga melibatkan aspek promotif-preventif pada akar masalah penyebab serta aspek kuratif-rehabilitatif pada fisik dan non fisik dari seseorang.
Prinsip Ilmu Kesehatan integratif terus berkembang dan berevolusi melalui "Precision Medicine" yang memanfaatkan teknologi bio-informatika. Sehingga, upaya sinergitas dari berbagai disiplin ilmu teknologi dan kesehatan, telah dapat membuka misteri dari akar penyebab masalah kesehatan yang tidak hanya bersumber pada faktor fisik namun juga berasal dari faktor non fisik.
Sehingga, Kesehatan integratif dianggap sebagai terobosan baru dalam ilmu kedokteran mutakhir sebagai salah satu solusi untuk mengembalikan sistem tubuh manusia untuk berfungsi kembali secara seimbang dan harmoni antara jasmani dan ruhaninya.
Sebagai seorang muslim yang berusaha tafakur terhadap fenomena Kesehatan integratif yang dianggap revolusioner sebagai solusi pengobatan terbaik di abad modern saat ini, maka iman kita jangan sampai tergerus untuk ikut mengatakan bahwa ini temuan mutakhir saat ini. Namun harus semakin kokoh keimanan sebagai seorang muslim, bahwa ilmu mutakhir ini sebenarnya telah di-ajarkannya lebih dulu di dalam Qur'an bahwa tubuh manusia yang telah diciptakan oleh Allah SWT adalah dalam sebaik-baiknya bentuk serta disusun secara seimbang.
Tadabbur Quran
QS. At Tin : 4 ( لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ )
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
QS. Al Infithar : 7 ( الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ )
"Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang".
Kita harus benar-benar meyakini bahwa rohani (ruh/qolbu) bagaikan raja yang menggerakkan tubuh (jasmani/fisik) untuk melakukan fungsi sistem tubuh (perbuatan-perbuatannya). Jika aspek ruhani tersebut berupa qolbu yang baik maka seluruh jasmani/fisik dari tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Namun jika aspek ruhaninya berupa qolbu yang buruk maka tentunya akan membawa tubuh (jasmani/fisik) melakukan hal-hal yang buruk (tidak berfungsi dalam sistem tubuh yang seimbang)
Mengenal Fitrah Sel Tubuh Manusia
Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi sperma bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh, lahm, nakhrum dan seterusnya. (QS Al Mu’minun : 12-14). Lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahim dan menjadi sempurna. (Ruh) ditiupkan ke janin (jasad) pada usia sekitar 16 minggu oleh Allah SWT. Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs). Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian “wa asyhadhum anfusihim, alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna* bukankah Aku Robb kalian?, benar ya Allah, kami bersaksi (QS Al Araf :172).
Inilah peristiwa syahadah rubbubiyatullah di alam rahim atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah ketauhidan. Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan “innate guidance” (kebaikan bawaan) yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah Al Quran sebagai huddan lin nas (petunjuk / pedoman bagi umat manusia).
Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih seperti pendapat John Locke, namun manusia telah diinstal berbagai kebaikan bawaan (innate goodness) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci dan membawa berbagai potensi kebaikan. Maka kita diminta untuk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya. Sebagaimana firman ALLAH SWT: “Tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS 30:30)
Konsep dengan keyakinan bahwa manusia lahir sudah bertauhid sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap/berperilaku secara keseluruhan.
Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan, jangan salah mendidik atau melakukan salah intervensi dengan aturan yang kita buat sendiri tanpa pedoman Quran dan Sunnah. Ingatlah setiap anak yang lahir, dilahirkan sudah dalam keadaan bertauid (islam), orangtuanya-lah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (al Hadits)
Ibarat membeli gadget, sudah diinstal dengan aplikasi bawaan yang baik, tinggal diaktifasi dan di maintenance saja dengan landasan akidah yang lurus yakni berpegang pada tali agama islam. Ibarat benih yang sudah ada, hanya Allah yang mampu menciptakan benih, kita manusia hanya bertugas sebagai petaninya saja yang tidak boleh memodifikasi bibit apalagi sampai merekayasanya berdasar olah pikiran manusia yang terbatas karena ketika bibit (generasi penerus) keluar dari kurikulum atau aturan Allah, maka niscaya kerusakanlah yang akan terjadi.
Islam telah mengajarkan bahwa menjadi manusia yang bertakwa tunduk dan patuh menjalankan Perintah-Nya dan meninggalkan Larangan-Nya adalah 99% non-coding gen (DNA) dalam ratusan triliyun sel tubuhnya, dan upaya maintenance terbaiknya adalah melalui Tazkiyatun Nafs.
Kesimpulan dari kesehaatan yang dikenalkan di abad modern ini sesungguhnya melandaskan konsep pada ajaran kedokteran Islam. "Qolbu adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia. Ingatlah ketika Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. jika segumpal daging tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal daging tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati (qolbu).” (HR. Bukhari, HR. Muslim).
Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu Qolbunya menjadi Qolbun Salim".
Tadabbur QS. Asy Syu’ara: 88-89. ( يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ )
"(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Allah dengan qolbun salim (hati yang selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya)." Allahu'alam bishawab. (Penulis adalah Ketua PW Jambi Muslimat Dewan Da'wah)