Membantah Teori "Benturan Peradaban": Kepicikan Pandangan Samuel Huntington

Gambar Utama

Oleh: Syarifah Syahidah

Ketika komunisme runtuh pada awal 1990-an, dunia Barat kehilangan “musuh ideologis”-nya. Maka muncullah Samuel P. Huntington, ilmuwan politik dari Harvard University, dengan bukunya yang terkenal, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996).

Dalam karya itu, Huntington berpendapat bahwa konflik besar di masa depan tidak lagi dipicu oleh ideologi atau ekonomi, melainkan oleh perbedaan budaya dan agama. Dunia, menurutnya, terbagi dalam beberapa peradaban besar — Barat, Islam, Konfusian, Hindu, dan lainnya. Ia menyimpulkan bahwa benturan utama pasca-Perang Dingin adalah antara Islam dan Barat, bahkan menulis kalimat yang terkenal (dan kontroversial):

Islam has bloody borders.
(Islam memiliki perbatasan yang berdarah.)

Pandangan ini kemudian banyak memengaruhi cara pandang Barat terhadap Islam. Dunia Islam pun mulai dicurigai sebagai sumber ancaman global baru setelah komunisme. Padahal, jika kita meninjau realitas sejarah, teori Huntington ini justru memperlihatkan kepicikan dan bias ideologis Barat terhadap Islam.

Konflik Terbesar Dunia Bukan Karena Agama

Sejak tahun 1990-an hingga hari ini, berbagai perang besar dunia ternyata tidak lahir dari perbedaan agama, tetapi dari keserakahan, ambisi politik, dan kepentingan ekonomi.

  • Rohingya (Myanmar):
    Rezim nasionalis Buddha menindas minoritas Muslim, merampas hak-hak mereka, dan memaksa eksodus besar-besaran. Islam bukan pelaku, tapi korban kekerasan yang sistematis.
  • India (Kashmir dan kekerasan terhadap Muslim):
    Kelompok ekstrem Hindu seperti RSS dan BJP menggunakan agama untuk membenarkan nasionalisme ekstrem. Umat Islam terus menjadi target diskriminasi dan kekerasan.
  • Palestina (Israel):
    Ini bukan perang agama, melainkan penjajahan yang dibungkus dengan klaim “keamanan nasional.” Israel mempraktikkan kolonialisme modern dengan menindas rakyat Palestina yang lemah.
  • Irak, Afghanistan, Libya, Suriah:
    Agresi militer Barat dibungkus narasi “perang melawan teror” dan “penegakan demokrasi.” Faktanya, perang-perang ini menghancurkan negeri Muslim demi kontrol sumber daya dan kepentingan geopolitik.

Fakta-fakta di atas memperlihatkan bahwa agama bukan sumber konflik, melainkan sering dijadikan alat legitimasi bagi ambisi kekuasaan. Dan dalam hampir semua kasus, Islam justru menjadi pihak yang difitnah dan ditindas.

Islam Adalah Rahmat, Bukan Ancaman

Islam tidak datang membawa konflik, tetapi membawa rahmat bagi semesta.

Allah ﷻ berfirman:

 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Islam adalah sistem hidup yang menegakkan keadilan, kasih sayang, dan keseimbangan. Ketika hukum Allah ditegakkan, manusia hidup dalam keadilan; namun ketika syariat disingkirkan, muncullah keserakahan, penjajahan, dan pertumpahan darah.

Analisis Cendekiawan Muslim: "Benturan" yang Sebenarnya

Dr. Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat menegaskan bahwa teori Huntington adalah bentuk ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam. Barat yang sekuler merasa cemas melihat Islam kembali bangkit membawa nilai-nilai ketuhanan dan keadilan, karena itu berarti ancaman bagi dominasi moral dan politik peradaban Barat.

Beliau menulis:

“Yang sebenarnya terjadi bukan benturan antarperadaban, tetapi benturan antara pandangan hidup sekuler yang menuhankan manusia, dengan pandangan hidup Islam yang menuhankan Allah.”
(Dr. Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal. 27)

Sementara itu, pemikir Muslim dunia, Dr. Ali Mazrui, juga menyebut bahwa Huntington gagal memahami hakikat Islam sebagai civilizational force yang membawa nilai kemanusiaan universal, bukan ancaman bagi dunia.

Kesimpulan

Benturan Antara Kebenaran dan Kezaliman

Realitas hari ini membuktikan bahwa teori The Clash of Civilizations hanyalah ilusi dari pandangan dunia yang kehilangan Tuhan.

Yang terjadi di dunia bukan benturan antaragama, tetapi benturan antara kebenaran dan kebatilan; antara mereka yang tunduk kepada Allah dengan mereka yang menuhankan hawa nafsu dan keserakahan.

Islam bukan ancaman bagi dunia. Islam adalah solusi bagi dunia yang haus keadilan.

“Yang menyalakan perang bukanlah agama, tetapi manusia yang kehilangan Tuhan.”

Selama dunia menolak hukum Allah, kekacauan akan terus berulang. Dan hanya Islam, dengan nilai tauhid dan keadilan ilahinya, yang mampu memadamkan api benturan dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

Lainnya Tentang Tsaqafah

Gambar utama 'Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman'

Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman

Gambar utama 'Tanggung Jawab Ketua atau Pimpinan Organisasi Dakwah'

Tanggung Jawab Ketua atau Pimpinan Organisasi Dakwah

Gambar utama 'Tragedi Cemetuk: Luka Berdarah Kekejian PKI di Banyuwangi'

Tragedi Cemetuk: Luka Berdarah Kekejian PKI di Banyuwangi

Gambar utama 'Wajah Munafik Peradaban Barat'

Wajah Munafik Peradaban Barat

Gambar utama 'Nabi Muhammad Lahir, Eropa dalam Kegelapan'

Nabi Muhammad Lahir, Eropa dalam Kegelapan

Gambar utama 'Pemimpin: Perisai Umat yang Hilang'

Pemimpin: Perisai Umat yang Hilang

Lihat Semua

Artikel Terbaru

Gambar utama 'Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman'

Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman

Gambar utama 'Hartini Dg Saido Terpilih Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Dewan Da'wah Periode 2025-2030'

Hartini Dg Saido Terpilih Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Dewan Da'wah Periode 2025-2030

Gambar utama 'Tanggung Jawab Ketua atau Pimpinan Organisasi Dakwah'

Tanggung Jawab Ketua atau Pimpinan Organisasi Dakwah

Gambar utama 'Dewan Dakwah Kukuhkan PGDD 2025–2028: Menguatkan Da'wah, Meneguhkan Pendidikan'

Dewan Dakwah Kukuhkan PGDD 2025–2028: Menguatkan Da'wah, Meneguhkan Pendidikan

Gambar utama 'Tragedi Cemetuk: Luka Berdarah Kekejian PKI di Banyuwangi'

Tragedi Cemetuk: Luka Berdarah Kekejian PKI di Banyuwangi

Gambar utama 'Wajah Munafik Peradaban Barat'

Wajah Munafik Peradaban Barat