Strawberry Generation, Mampukah menghadapi Tantangan Masa Depan?
Hartini Dg. Saido, M. H
Strawberry generation adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap lebih rapuh secara mental dan emosional dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka disebut seperti "stroberi" karena tampak menarik dan cemerlang dari luar, tetapi mudah hancur ketika menghadapi tekanan.
Istilah ini muncul pertama kali di Taiwan dan biasanya merujuk pada generasi milenial atau Gen Z yang dianggap kurang tahan banting dalam menghadapi tantangan hidup, terutama dalam dunia kerja. Istilah ini lebih sering digunakan oleh generasi sebelumnya yang membandingkan mentalitas mereka dengan anak muda zaman sekarang. Beberapa karakteristik yang sering dikaitkan dengan strawberry generation adalah:
- Cepat menyerah – Sulit menghadapi tekanan dan tantangan, serta mudah merasa stres.
- Mudah tersinggung – Lebih sensitif terhadap kritik dan perbedaan pendapat.
- Terlalu bergantung pada orang lain – Kurang mandiri dan sering mengandalkan orang tua atau atasan untuk menyelesaikan masalah.
- Mementingkan kenyamanan – Cenderung mencari pekerjaan yang fleksibel dan menolak lingkungan kerja yang keras.
- Berorientasi pada kebahagiaan pribadi – Lebih memilih pekerjaan yang menyenangkan daripada yang stabil atau berpenghasilan tinggi.
Penyebab Munculnya Strawberry Generation
Penyebab munculnya strawberry generation cukup kompleks dan berkaitan dengan perubahan pola asuh, perkembangan teknologi, serta kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Berikut adalah beberapa faktor utama yang berkontribusi:
1. Pola Asuh yang Terlalu Protektif (Overprotective Parenting)
Banyak orang tua modern ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka dibandingkan yang mereka alami. Hal ini membuat mereka terlalu melindungi anak-anak dari kesulitan hidup, yang akhirnya membuat mereka kurang terbiasa menghadapi tantangan. Contohnya:
- Orang tua terlalu cepat turun tangan saat anak menghadapi masalah, sehingga anak tidak belajar menyelesaikannya sendiri.
- Larangan berlebihan terhadap aktivitas yang berisiko membuat anak takut menghadapi kegagalan dan kesulitan.
2. Kemajuan Teknologi dan Kenyamanan Hidup
Kemudahan yang ditawarkan teknologi membuat generasi muda terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan dan mudah diakses. Ini menyebabkan:
- Ketidakmampuan menghadapi tantangan karena terbiasa dengan solusi cepat (misalnya, mencari jawaban di Google daripada berpikir sendiri).
- Kurangnya ketahanan mental akibat paparan media sosial yang membuat mereka membandingkan diri dengan orang lain, sehingga lebih mudah merasa stres atau insecure.
- Berorientasi pada kepuasan instan sehingga sulit menghadapi proses yang membutuhkan waktu panjang, seperti membangun karier atau menjalani hubungan jangka panjang.
3. Kurangnya Pengalaman Menghadapi Kesulitan
Dibandingkan generasi sebelumnya yang sering menghadapi kesulitan ekonomi atau tekanan sosial, generasi strawberry umumnya tumbuh dalam kondisi yang lebih nyaman. Akibatnya:
- Mereka tidak terbiasa dengan kegagalan dan cenderung menyerah lebih cepat.
- Kurangnya pengalaman bekerja keras sejak kecil membuat mereka sulit menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu mudah.
4. Sistem Pendidikan yang Berorientasi pada Prestasi Akademik
Banyak sekolah lebih menekankan nilai akademik daripada membangun karakter dan keterampilan hidup. Akibatnya:
- Siswa terbiasa mengikuti aturan tanpa banyak berpikir kreatif atau mandiri.
- Tidak terbiasa menghadapi kegagalan karena fokus hanya pada nilai dan penghargaan.
5. Perubahan Budaya dalam Dunia Kerja
Generasi sebelumnya sering bekerja dalam lingkungan yang keras dan kompetitif, sementara generasi sekarang lebih menuntut keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi. Akibatnya:
- Mereka lebih cepat merasa stres jika lingkungan kerja terlalu menekan.
- Lebih memilih pekerjaan yang fleksibel dan menyenangkan daripada yang stabil tapi penuh tekanan.
Namun, tidak semua stereotip ini benar, banyak juga diantaranya yang bisa dikatakan sukses bahkan sangat sukses, memiliki kemandirian dan ketangguhan. Strawberry generation bukan sepenuhnya salah generasi itu sendiri, tetapi lebih merupakan hasil dari pola asuh, teknologi, dan perubahan sosial yang terjadi. Meskipun mereka sering dianggap "rapuh," mereka juga memiliki keunggulan seperti lebih kreatif, inovatif, dan peduli dengan kesejahteraan mental. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan kenyamanan hidup dengan membangun ketahanan mental agar bisa menghadapi dunia yang penuh tantangan.
Cara Mendidik Anak Supaya Tidak Menjadi Strawberry Generation
Agar anak tidak menjadi bagian dari strawberry generation dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan, orang tua dan pendidik perlu menerapkan pola asuh yang seimbang antara kasih sayang dan ketegasan. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Ajarkan Kemandirian Sejak Dini
Anak perlu belajar menghadapi tantangan kecil sejak kecil agar terbiasa menyelesaikan masalah sendiri. Contoh:
- Biarkan anak mengambil keputusan sendiri dalam hal-hal kecil, seperti memilih pakaian atau makanan.
- Latih tanggung jawab dengan memberikan tugas rumah yang sesuai usia, seperti merapikan tempat tidur atau mencuci piring.
- Jangan terlalu cepat membantu—biarkan anak mencoba dulu sebelum turun tangan.
2. Bangun Mental Tangguh (Resilience)
Mental tangguh akan membantu anak menghadapi kegagalan dan tantangan dengan lebih baik. Cara melatihnya:
- Ajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
- Dorong anak untuk mencoba hal baru tanpa takut salah, misalnya mencoba olahraga baru atau berbicara di depan umum.
- Beri tantangan yang sesuai usia, seperti menyelesaikan tugas tanpa bantuan atau berani meminta maaf jika salah.
3. Batasi Kenyamanan Berlebihan
Anak yang terbiasa dengan kenyamanan tanpa tantangan akan sulit menghadapi realitas hidup. Langkah-langkah yang bisa dilakukan:
- Kurangi ketergantungan pada teknologi dengan membatasi waktu layar dan mendorong aktivitas di luar ruangan.
- Ajarkan kesabaran dan proses, misalnya dengan menabung untuk membeli sesuatu daripada langsung memberikannya.
- Beri pengalaman menghadapi kesulitan, seperti mendaki gunung, berkemah, atau belajar memasak sendiri.
4. Kembangkan Kecerdasan Emosional
Selain pintar secara akademik, anak juga perlu memiliki kemampuan mengelola emosi dan berinteraksi dengan orang lain. Cara mengajarkannya:
- Ajarkan anak untuk menghadapi konflik dengan sehat, bukan menghindarinya atau mudah tersinggung.
- Latih empati dan kepedulian dengan mengajaknya membantu orang lain, seperti berbagi makanan atau mengunjungi panti asuhan.
- Ajarkan cara mengatasi stres dan kecewa, misalnya dengan menulis jurnal, berolahraga, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.
5. Tumbuhkan Mindset Bertumbuh (Growth Mindset)
Anak harus percaya bahwa kemampuan mereka bisa berkembang melalui usaha dan belajar. Cara menanamkan pola pikir ini:
- Hindari pujian berlebihan hanya pada hasil akhir, tetapi lebih pada usaha yang dilakukan.
- Dorong anak untuk terus belajar dan berkembang, misalnya dengan membaca buku atau mengikuti kursus keterampilan.
- Jadikan tantangan sebagai peluang, misalnya dengan mengatakan, "Kamu belum bisa sekarang, tapi kalau latihan, pasti bisa!"
6. Beri Teladan yang Baik
Anak akan meniru apa yang mereka lihat dari orang tua dan lingkungan. Pastikan untuk menunjukkan:
- Sikap pantang menyerah dan kerja keras dalam menghadapi masalah.
- Cara mengelola emosi dengan baik, seperti tidak mudah marah atau frustrasi.
- Kedisiplinan dan tanggung jawab, misalnya dengan datang tepat waktu atau menyelesaikan tugas dengan baik.
Mempersiapkan anak untuk masa depan bukan berarti membuat mereka menderita, tetapi memberi mereka pengalaman dan keterampilan yang membangun ketahanan mental dan emosional. Dengan pola asuh yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tahan banting, dan siap menghadapi dunia yang penuh tantangan.