Hati Nurani Manusia
Hamidah Yacoub
Hati nurani adalah suara batin yang menjadi penuntun moral dalam diri setiap manusia. Ia bekerja dalam diam, namun kekuatannya mampu membimbing seseorang membedakan antara yang benar dan yang salah, bahkan ketika dunia di sekelilingnya penuh kebisingan dan kebingungan nilai. Hati nurani tidak tunduk pada logika semata atau kepentingan pribadi; ia adalah bagian terdalam dari jiwa yang terhubung dengan kebenaran universal.
Dalam kehidupan sehari-hari, hati nurani kerap muncul dalam bentuk kegelisahan saat hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral, atau sebaliknya, sebagai kedamaian batin saat melakukan hal yang benar, meski berat atau tak populer. Ia bukan sekadar rasa bersalah, melainkan radar moral yang telah terbentuk melalui pengalaman, pendidikan, dan pencarian makna hidup yang mendalam.
Antara nurani dan manusia tidak dapat dipisahkan. Nuranilah yang membedakan manusia dengan binatang. "Nurani" adalah kata sifat yang berarti "bersinar", "bercahaya", dari kata "nur" (cahaya, sinar). Ia selalu dihubungkan dengan kata "hati" sehingga menjadi "hati nurani". Hati manusia itu bercahaya atau mendapat cahaya yang menyinari kehidupan.
Dengan menyebut kata sifat "nurani", maka yang dimaksud sebenarnya adalah "hati nurani" dengan pengertian "hati yang mendapat cahaya." Hati bercahaya adalah karena mendapat cahaya dari sumber cahaya, yaitu Allah s.w.t.
ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lentera yang di dalamnya ada lampu. Lampu itu ada dalam kaca. Kacanya seperti bintang yang bersinar. Ia dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati, yang bukan barat dan bukan pula timur. Bahan bakarnya saja, sudah bersinar sekalipun tidak pernah disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki. Begitulah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nur 24: 35)
Dalam konteks spiritual dan religius, hati nurani dianggap sebagai anugerah Ilahi yang menempatkan manusia di atas makhluk lainnya. Ia adalah "wakil" dari cahaya Tuhan di dalam diri manusia, yang mengingatkan akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, menjaga kejernihan hati nurani adalah tugas yang tidak bisa diabaikan. Ia bisa tumpul, bisu, bahkan mati, jika terus-menerus diabaikan atau dibungkam oleh kepentingan duniawi.
Namun ia dapat tertutup oleh suatu yang gelap dalam diri manusia sehingga kehidupan juga menjadi gelap. Bila "nur" yang ada dalam hati manusia tidak diaktifkan, maka individu yang bersangkutan tdk akan mendapatkan cahaya terang. Firman Allah:
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
"Kenapa mereka tidak berjalan di bumi sehingga mereka mempunyai hati yang dapat berpikir dan telinga yang dapat mendengar, Sebenarnya yang buta itu bukanlah mata, tetapi hati yang ada dalam dada." (al-Hajj 22: 46)
Hati nurani, dalam pandangan Islam, adalah bagian dari fitrah manusia—sifat bawaan yang Allah tanamkan sejak penciptaannya. Ia adalah pancaran cahaya Ilahi yang membantu manusia membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا ۚ فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)
Ayat ini menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia telah Allah titipkan kemampuan untuk mengenali kebaikan dan keburukan. Inilah yang disebut sebagai hati nurani. Ia bukan sekadar bisikan moral, tetapi bagian dari amanah spiritual yang menuntut manusia agar bertindak sesuai petunjuk Allah. Rasulullah SAW pun bersabda:
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Dosa adalah sesuatu yang meragukan dalam dirimu, walau orang-orang memberi fatwa yang membolehkan.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi)
Hadis ini menunjukkan bahwa hati nurani, jika masih bersih, mampu menjadi panduan yang sangat kuat dalam mengambil keputusan, bahkan lebih jujur dari fatwa manusia. Namun, hati nurani bisa menjadi gelap dan mati bila terus-menerus diabaikan atau dibungkam oleh dosa dan maksiat.
Di dalam al- Qur'an hati disebut 'qalb' (kalbu). Sebutan lainnya adalah 'fuad' dan 'bashirah'.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
"Banyak jin dan manusia tersesat dalam hidup sehingga mereka menjadi penduduk neraka karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk pemahaman. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak menggunakannya untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk mendengar. Meteka tidak obahnya seperti binatang ternak, dan bahkan lebih sesat dari bangsa binatang." (al-A'raf 7: 179)
Dari sini dapat dilihat bahwa hati yang tidak mendapat sinar bukanlah hati nurani, tetapi hati yang gelap, yang lebih berbahaya dari hati atau instink binatang (atau apapun namanya yang tertanam dalam diri hewan selain manusia).
Manusia yang berhati nurani atau mempunyai hati yang bersinar adalah manusia yang mendayagunakan potensi-potensi positif yang ada dalam dirinya untuk kebaikan sendiri, orang lain dan lingkungan hidup. Potensi-potensi tersebut bersifat ilahiyyah dan luhur karena asal usulnya dari Allah. Ruh sebagai sesuatu yang bersifat 'ruhani' (spritual), yang menjadi motor kehidupan manusia, ditiupkan dari Allah (as-Sajdah 32: 9)
Karena asalnya yang transendan ini, yang maha tinggi di atas manusia, maka manusia mempunyai beberapa kualitas ilahiyah dalam dirinya. Kualitas-kualitas itu diberikan kepada manusia agar ia dapat menyinari hidupnya ke jalan yang benar, yaitu jalan Allah.
Di antara kualitas Allah adalah kebenaran, keadilan, kesucian, cinta kasih, keampunan, kemaafan suka memberi dan suka menolong. Allah adalah Tuhan Yang Maha Benar, Maha Adil, Maha Kasih, Maha Pemaaf, dst. Sifat-sifat mulia tersebut adalah sifat-sifat Allah dan sekaligus sifat-sifat manusia. Sebagai sifat-sifat Allah, maka semuanya berkualitas "maha", yang sangat teratas dari yang dimilki manusia. Sebagai sifat-sifat manusia, maka semua kualitas tersebut sesuai dengan kadar yang diberikan Allah kepadanya untuk membimbing kehidupan. Kemanusiaan manusia adalah karena sifat-sifat luhur yang tertanam dalam ruhnya yang berasal dari Allah.
Karena berasal dari Allah Yang Esa, yang mempunyai iradah, firman dan perbuatan yang bebas dari semua tekanan, maka hati nurani manusia juga bebas untuk menentukan pilihannya. Ia tidak dapat didikte oleh kekuatan dari luar.
Dalam pada itu, orang yang berhati nurani rela berkorban dan menderita untuk kemanusiaan. Kenapa ada orang rela menderita secara fisik dan mental demi mempertahankan apa yang ia yakini sebagai 'a fair cause' atau 'a fundamental human right?' Jawabannya tidak lain karena kata hati nurani itu merupakan 'divine gift' (karunia ilahi).
Memerangi sesuatu yang bersifat ilahi sama dengan memerangi Allah itu sendiri. Makhluk mana yang dapat melawan Penciptanya? Kesombongan barangkali mendorongnya berkata dan berbuat menantang Tuhan Penciptanya, tetapi itu hanya dari kaca mata manusia yang kerdil. Allah menyatakan:
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
"Janganlah bersikap sombong di bumi! Kalian tidak akan pernah sanggup masuk ke perut bumi dan tidak pula akan pernah setinggi gunung!" (al-Isra' 17:37).
Di zaman yang serba cepat dan penuh distraksi seperti sekarang, suara hati nurani kerap kalah oleh gemuruh opini publik, tekanan sosial, dan godaan materi. Maka, diperlukan keberanian dan kejujuran untuk tetap mendengarkan dan mengikuti hati nurani—karena dalam banyak kasus, ia adalah satu-satunya suara yang tetap setia mengingatkan kita pada kebenaran, bahkan ketika dunia memilih diam.
Hati nurani sering kali menjadi satu-satunya penjaga agar manusia tetap berada di jalan yang lurus. Maka barangsiapa yang masih mampu mendengarnya, hendaklah bersyukur, karena itu tanda bahwa Allah masih menjaga dirinya.
____________
Referensi
- The Holy Qur'an Text Translation and Commentary Abdullah Yusuf 'Ali. Amana Corporation. Brentwood, Maryland, USA.
- Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic. Arabic-English. Librairie Du Liban, Beirut