Globalisasi dan Westernisasi Penjajahan melalui Pendidikan
muslimatdewandakwah
Dewasa ini penjajahan di muka bumi muncul dengan berbagai format yang baru, lebih modern dan lebih halus menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Tarif dagang yang dipatok Amerika (AS) misalnya, sesungguhnya tujuannya adalah ingin mengontrol ekonomi dunia. Hegemoni ekonomi sesungguhnya adalah bentuk penjajahan di era modern.
Selain mengontrol perkembangan ekonomi dunia, salah satu saluran paling efektif untuk melakukan penjajahan adalah sistem pendidikan. Melalui kurikulum, metode pengajaran, hingga simbol-simbol intelektual yang diangkat, sebuah bangsa bisa diarahkan untuk mengagungkan budaya asing dan merendahkan warisan budayanya sendiri. Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan mental terjajah, meski secara fisik mereka telah merdeka.
Pendidikan seharusnya menjadi sarana pembebasan manusia, membentuk karakter, memperkuat jati diri bangsa, dan mendorong kemandirian berpikir. Namun, jika sistem pendidikan justru dijejali oleh narasi-narasi asing yang tidak sesuai dengan nilai dan realitas lokal, maka pendidikan berubah menjadi alat domestikasi dan pengasingan dari akar budaya sendiri.
Road Map Pendidikan Indonesia tahun 2020–2035 yang mulai menunjukkan arah penghapusan atau pengurangan porsi pelajaran agama dalam kurikulum merupakan indikasi serius adanya infiltrasi ideologis dalam sistem pendidikan nasional. Kebijakan semacam ini, meski dikemas dalam bahasa modernisasi atau netralitas pendidikan, sejatinya mencabut akar moral dan spiritual peserta didik dari aset nilai-nilai luhur bangsa. Pendidikan agama tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan, tetapi juga membentuk karakter, etika, tanggung jawab sosial, dan ketahanan moral generasi muda. Dengan menyingkirkannya, ruang pendidikan menjadi steril dari nilai-nilai transendental, dan terbuka lebar bagi masuknya ideologi asing yang tidak selaras dengan akar budaya dan jati diri bangsa Indonesia.
Langkah ini dapat dibaca sebagai bagian dari proyek global yang bertujuan menjauhkan generasi muda dari akar budaya dan spiritualitasnya. Dalam konteks penjajahan pemikiran, menghapus pendidikan agama adalah strategi halus untuk melemahkan fondasi ideologis bangsa agar lebih mudah diarahkan oleh kekuatan eksternal, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun budaya. Ketika generasi muda kehilangan nilai-nilai moral dan identitas religiusnya, mereka akan lebih mudah dibentuk oleh arus globalisasi tanpa filter, menjadikan pendidikan bukan alat pemberdayaan, tetapi justru alat domestikasi. Inilah bentuk penjajahan modern yang tidak memakai senjata, melainkan kurikulum.
*Penulis: Hartini Dg. Saido S.Ag., M.H
(Wakil Ketua Umum PP Muslimat Dewan Da'wah)
Penjajahan Pemikiran Melalui Pendidikan*
Di masa lalu, penjajahan datang dengan senjata, merampas tanah dan menumpahkan darah. Namun di masa kini, penjajahan datang dengan falsafah dan kurikulum, menyusup ke dalam buku pelajaran, seminar pendidikan, dan arah kebijakan negara. Itulah penjajahan pemikiran, yang nyaris tak terasa namun sangat dalam pengaruhnya.
Salah satu medan utama penjajahan ini adalah dunia pendidikan. Dahulu, pendidikan berarti menanamkan adab dan taqwa sebelum ilmu. Namun kini, arah pendidikan telah bergeser: anak didik tidak lagi diarahkan untuk takut kepada Allah, tapi untuk takut tak lulus ujian, tak diterima kerja, atau tak punya gelar.
Padahal tujuan pendidikan Islam sejati adalah membentuk manusia yang mengenal Rabb-nya, tunduk kepada wahyu-Nya, dan beradab kepada sesama manusia karena rasa takutnya kepada Allah.
Ketika Pendidikan Dipisahkan dari Tauhid
Hari ini, banyak sistem pendidikan mengeluarkan Allah dari ruang kelas. Sekolah dan universitas berlomba mencetak "manusia sukses versi dunia", bukan "hamba Allah yang bertaqwa."
Anak-anak diajarkan untuk mengejar IPK, beasiswa, karir, dan jabatan, tetapi mereka tidak mengenal makna hidup, tauhid, dan akhirat. Bahkan yang lebih menyedihkan, banyak lulusan sekolah tinggi tetapi tak kenal siapa Tuhannya, tak paham tujuan hidupnya, dan tak takut kepada hari pembalasan. Ini bukan kemajuan. Ini adalah kekalahan umat dalam perang pemikiran. Bukankah Allah Sudah Menjanjikan?, Allah berfirman:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. At-Thalaq: 2–3)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila Allah memperbaiki hubungan seorang hamba dengan-Nya, maka Allah akan perbaiki pula hubungannya dengan manusia."
(HR. Ahmad, shahih)
Namun kini, anak-anak kita tidak lagi diarahkan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, melainkan diajari cara mengesankan manusia, sistem, dan pasar kerja. Maka jangan heran, jika generasi ini fasih teknologi tapi kering dari iman dan adab.
Siapa yang Harus Bangkit? Kita semua. Terutama para orang tua, guru, da’i, dan pendidik. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh cerdas tapi asing dari Al-Qur’an. Jangan biarkan generasi penerus sibuk mempersiapkan masa depan dunia, tapi lupa mempersiapkan akhirat.
Pendidikan yang benar adalah yang menanamkan tauhid sebelum teori, adab sebelum angka, dan ibadah sebelum gelar.
Mari Kembalikan Arah Pendidikan
Tanamkan sejak dini: "Hidupmu untuk Allah, bukan untuk dunia." Jadikan rumah dan sekolah sebagai tempat mengenalkan Rabb dan Rasul-Nya.
Evaluasi sistem belajar: apakah ini mendekatkan anak pada surga atau malah menjauhkan? Ingat: Pendidikan tanpa iman hanya akan melahirkan generasi cerdas yang menjadi budak dunia. Ini bukan sekadar keresahan, ini panggilan perjuangan. Jika kita biarkan penjajahan pemikiran ini berlangsung terus, maka kita sedang menyerahkan generasi kita kepada sistem yang memisahkan mereka dari Rabb mereka.
Mari bangkit, bersihkan pendidikan dari sekularisme, dan arahkan kembali ke jalur yang benar: tauhid, taqwa, dan takwa kepada Allah sebagai poros hidup. Maka “Didiklah anak-anakmu untuk mengenal Allah, sebelum mereka mengenal dunia.”
*Penulis: Syarifah Syahidah
(Da'iyah MC Muslimat Dewan Da'wah Husus Pembinaan Rohani di Rutan & Lapas Wanita, Pengurus MT Al Itqon, Pengajar BDI (Belajar Dasar Islam), serta aktif membina beberapa majlis taklim.
Ghazwul Fikri adalah Bentuk Penjajahan Pemikiran*
Ghazwul Fikr atau perang pemikiran/penjajahan pemikiran telah terjadi sejak lama, bahkan setua umur manusia. Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan Ghazwul Fikr ketika ia membujuk Adam as untuk memakan buah terlarang di surga. Namun, Ghazwul Fikr modern yang kita kenal sekarang ini mulai berkembang pesat ketika Napoleon Bonaparte dari Prancis melakukan invasi pemikiran terhadap umat Islam.
Dalam sejarah modern, Ghazwul Fikr menjadi strategi yang digunakan oleh Barat untuk mengalahkan umat Islam tanpa harus melakukan perang fisik. Mereka menggunakan berbagai cara,salah satunya melalui Pendidikan. Adapun upaya2 yang mereka lakukan.
- Memberikan beasiswa. Mereka mengirim pelajar muslim untuk belajar di universitas Barat, untuk menimba ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dapat mengubah pola fikir dan keyakinannya terhadap Islam.
- Pengaruh Kurikulum. Kurikulum Pendidikan Barat dapat mempengaruhi Kuikulum pendidikan Islam ,yang mengurangi penekanan terhadap nilai2 Islam,berdampak mengikis akidah umat
Tujuannya: Untuk menghancurkan Islam, melemahkan keyakinan dan akhlak umat Islam, dengan mengubah pola fikir maka umat Islam meninggalkan ajarannya dan berkiblat ke barat dengan demikian akan mudah menguasai umat Islam, sehingga umat Islam dijadikan alat untuk tujuan politik dan ekonomi Barat.
Sekarang kita,sudah merasakan akibatnya, disini peran Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sangat ditunggu kiprahnya.
Penulis : Ratna Warni.
(Ketua Muslimat Dewan Da'wah Wilayah DKI )