Perempuan, Nothing or Something?
Hartini Dg. Saido, M. H
Dengan sekali hentak Dursasana sampai di hadapan Drupadi yang masih berdiri terdiam mencoba mencerna dengan akal budinya, permainan apa yang telah dilakukan sampai-sampai menjadikan dirinya sebagai taruhan.
Dalam situasi genting, ketika Drupadi sadar bahwa tak ada seorangpun dalam ruangan tempatnya berada mencoba membela dan melindungi dirinya bahkan Pancawa (lima suaminya) sekalipun. Dalam kepiluan Drupadi mencoba menguatkan hatinya membela eksistensi dirinya, memilih tubuhnya. Berdiri sebagai seorang Drupadi, menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan yang juga adalah seorang Srikandi. Seorang tuan putri dari seorang raja yang berkuasa. Ya, Drupadi bukan perempuan biasa bahkan dia sangat mahir dalam menggunakan senjata dan berperang melawan musuh. Karena itu pada saat dia merasa sendirian dan tidak ada yang mampu menolongnya dalam situasinya. Dia tampil dengan jati dirinya yang lain.
Dursasana tak peduli dengan pembelaan Drupadi, atas nama kemenangan dan kepemilikan yang telah dikantongi nya dengan sekali hentakan dia menarik kain yang menutupi tubuh Drupadi. Dia ingin mempermalukan Drupadi. Dan pada saat yang genting Dewa Kresna datang menolong. Kain seolah tak pernah habis dan lepas dari tubuh Drupadi. Bahkan semakin tebal, terusss...dan terus bertambah tebal sampai akhirnya Dursasana kewalahan dan menyerah. (Epik dalam serial Mahabaratha-cerita hanya sebagai ilustrasi saja)
Epik dalam serial Mahabharata ini menyiratkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam filsafat ajaran Hindu atau peradaban India. Cukup menarik untuk disimak dan dicerna.
Menyajikan bahwa betapa seorang perempuan sekelas Drupadi bisa tampil dalam dua sisi dirinya. Dia menyesuaikan dirinya tatkala dia harus berperan sebagai istri dari Pandawa lima. Tetapi pada saat lain dia tetap mampu menunjukkan eksistensinya. Tanpa cacat, cela dan kekurangan, bahwa dia memiliki sisi lain dari status nya yang menjadi istri yang lembut, penurut dan melayani serta menentramkan Pancawa.
Mengharmonisasi cerita di atas dalam filsafat Taoisme ada ajaran 'yin' dan 'yang'. Bahwa laki-laki dan perempuan seperti malam dan siang, berpasangan dan saling melengkapi, tidak ada yang lebih dominan atau superior. 'Yin' untuk perempuan beraura negatif, kegelapan, lembut tetapi mudah memahami, sedang 'yang' aura lelaki yang terang, positif, kuat dinamik dan kreatif. Keduanya memberi keseimbangan awal alam semesta (harmonisasi)
Kosmologi Cina menggambarkan seluruh alam semesta dalam ungkapan-ungkapan 'yin' dan 'yang'. Ungkapan yin/yang dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip eksistensi yang bersifat aktif (yang) dan reseptif (yin), kuat dan lemah, atau pria dan wanita. Pemikiran Cina sangat menekankan konsep harmoni dan keseimbangan, dan ini disimbolkan antara keduanya yang saling merangkul dalam keselarasan dan keterpaduan. Jika harmoni antara keduanya hilang, maka alam semesta akan berhenti mengalir dan segala sesuatu akan kacau.
Adalah Sachiko Murata, seorang wanita Jepang yang mendalami filsafat Islam, melihat ada kemiripan kosmologi Cina dan Kosmologi Islam. Tetapi belum banyak dikenal. Murata yang menilai ada analogi filsafat Cina dan Islam, kemudian menuangkannya dalam bukunya, The Tao of Islam. Ternyata prinsip- prinsip 'yin' dan 'yang' yang menggambarkan pola relasi patriarkat, terdapat juga dalam Islam. Namun Murata tidak melihat patriarkat sebagai suatu yang negatif, karena Tuhan, melalui nama-nama-Nya, adalah juga bersifat patriarkat, yaitu Agung, Kuasa, Menghukum, dan sebagainya.
Akan tetapi Murata mengatakan bahwa Islam dan agama-agama samawi lainnya mempunyai corak mainstream yang sama, yaitu terlalu berat mengacu pada pendekatan syariat atau hukum, dan kurang memakai pendekatan hakikat atau ma’rifat dalam melihat suatu permasalahan. Pendekatan hukum memerlukan figur kekuasaan (patriarkat) agar hukum dapat dijalankan, sedangkan pendekatan ma’rifat memerlukan pendekatan hati (matriarkat) agar manusia mau melihat ke dalam dirinya. Akibatnya, mainstream dunia Islam terlalu berat pada internalisasi sifat Tuhan yang Agung (Jalal-kualitas maskulin), dan kurang pada internalisasi sifat Tuhan yang indah (Jamal-kualitas feminin).
Umumnya sebuah masyarakat yang terlalu menekankan sifat Agung Tuhan (maskulin), Tuhan yang tidak terjangkau, maka masyarakat tersebut cenderung terlalu menekankan hukum-hukum dan syariat. Hal ini tecermin pada perilaku sosial masyarakat yang cenderung keras, dan terlalu menekankan kekuasaan dan hukum. Kadar kualitas patriarkat dalam praktik kehidupan bermasyarakat adalah sangat tinggi, dan rendah kadar kualitas matriarkat-nya. Namun ada juga masyarakat yang meng-internalisasi Tuhan sebagai yang dekat dan pengasih (feminin), dan ini biasanya ditemui pada masyarakat yang kehidupan sosialnya penuh toleransi dan mementingkan keharmonisan sosial. Mungkin masyarakat Jawa tradisional, dapat dijadikan contoh, karena masyarakat Jawa mempunyai persepsi bahwa Tuhan adalah dekat sekali, yaitu ada di hati setiap manusia. Cara pandang ini tertanam dalam diri perempuan tentang alam yang cenderung mengalah demi harmoni, seperti dalam pemaknaan tanaman padi sebagai Dewi Sri. Bentukan ini berarti penggambaran sifat perempuan yang lembut, mengayomi, penyayang dan pengasih.
Barangkali cara pandang seperti di ataslah yang mendasari konsep pemikiran Dr. H. Sumanta, M.Ag (Rektor IAIN Cirebon), dalam sebuah kesempatan memaparkan : “...salah satu perwujudan dari manusia di muka bumi ini dapat diwakili oleh perempuan. Perempuan menjadi salah satu unit kosmos dalam komponen alam semesta.” "...perempuan dalam konteks ini dapat memaksimalkan apa yang disebut sebagai al-aql dan al-qalb. Perempuan telah mampu mendayagunakan secara maksimal akal dan hatinya untuk hadir dalam tindakan yang nyata. Kondisi kesucian hati manusia menjadi tujuan mutlak dalam ajaran tasawuf. Oleh sebab itu, dalam konteks tasawuf, kemampuan spiritual menjadi permasalahan utama dalam kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dalam dunia tasawuf harus diartikan secara utuh. Dengan melihat sekaligus mempertimbangkan aspek material dan aspek mentalnya secara bersamaan". Maka menurut H. Sumanta dapat disimpulkan bahwa dunia tasawuf telah berhasil menampilkan identitas perempuan sebagai individu di luar kemampuan seksual dan reproduksinya.”
Perempuan, dengan keunikannya, memang selalu menarik untuk dijadikan bahan kajian sepanjang masa dari berbagai sudut pandang/segala aspek. Mengingat bahwa perempuan tidak hanya dipandang sebagai entitas fisik.
Islam sendiri memiliki konsep yang cukup jelas dalam penggambaran perempuan. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya, antara lain di surah Ar-Rum yang artinya :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS : ar Rum ayat 21).
Firman Allah SWT di beberapa surah Al-Qur’an dengan pengertian yang sama antara lain termaktub dalam QS : An Nisa’ : 1, ar Ra’d : 3, An Nahl : 72, as Syu’ara : 166, as Syura :50, Az Dzariyat : 49, an Najm : 45, ar Rahman : 55, al Qiyamah : 39, an Naba’ : 8, al Lail : 5.
Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :
انما النساء سقاءق الرجال
“Sesungguhnya perempuan adalah belahan jiwa (mitra) bagi laki-laki”. (Al Hadits).
Semua ayat yang tertera di atas dan di hadits-hadits yang berbicara tentang keduanya, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa perempuan adalah determinan laki-laki (dengan alasan tercipta dari tulang rusuk dan kelihatan lemah secara fisik). Tidak juga berbicara bahwa perempuan subordinat dan laki-laki ordinat. Akan tetapi perempuan adalah makhluq manusia ciptaan Allah dengan versi yang lain (berbeda secara nature/biologis dengan laki-laki), perempuan sempurna sebagai makhluq dan mampu mengemban tugas kehidupan (sesuai kodratnya) dan memenuhi semua kebutuhannya dengan atau tanpa bantuan laki-laki. Mendapatkan pahala atas semua amal yang dilakukannya tanpa pengurangan sedikitpun. Kendati begitu karena Allah menciptakan secara berpasangan tentu akan lebih baik jika bisa berkolaborasi dengan laki-laki karena bisa saling melengkapi.
Jadi perempuan itu something bukan nothing bahasa gaulnya ‘sesuatu’ (boleh pakai ‘banget’ hehehe). Perempuan itu ‘sesuatu banget’ bahkan dalam hal tampil sebagai seorang publik figur sekalipun. Karena perempuan memiliki beberapa keunikan yang justru tidak dimiliki laki-laki seperti :
- Perempuan cenderung lebih persuasif.
- Inklusif dan team building (staff participation) dalam proses problem solving dan decision making.
- "I'll Show You Attitude" dalam situasi tertentu.
- Panggilan dan notifikasi (alat komunikasi) akan bergetar.
Jadi semakin yakin kan perempuan itu something?!. Jika saat ini sebagian perempuan cenderung ke belakang, berdiam di rumah menikmati perannya sebagai istri dan ibu, mayoritas menjaga jarak dari sektor publik, itu hanya pilihan. Karena sesungguhnya dia bisa tampil dan bersaing dengan membawa eksistensinya. Perannya spesifik tidak harus equal/setara dengan laki-laki, karenanya perempuan tidak harus meninggalkan kodrat untuk memainkannya. Keunikannya adalah kelebihannya.
Bahwa terdapat beberapa sifat kepemimpinan perempuan entah dalam kelompoknya (sesama perempuan) atau terhadap anak-anaknya, yaitu : Sifat keibuan (mother) yaitu lemah lembut ; Berpenampilan menarik (appearance) - mampu memunculkan daya tarik ; Penuh kasih sayang (pet) yaitu aspek pendekatan melalui relasional etis, emosional, dan spiritual; Wanita besi (iron maiden)- yaitu ditunjukkan oleh seorang pemimpin perempuan dengan gaya kompetensi yang dimiliki dengan mampu bertahan dalam segala situasi.
Domain domestik atau publik, ordinat atau subordinat itu hanyalah pilihan yang akan sangat bijaksana jika dimintai pendapatnya/persetujuan perempuan. Karena partisipasinya dalam sektor publik juga dibutuhkan dan akan memberi warna kelembutan dan keindahan, ketenangan dan keteduhan sesuai sifatnya. Sehingga masyarakat ini dibangun tidak hanya mengandalkan kekuatan, kekerasan, persaingan dan intrik yang tak berkesudahan.
Meniadakan peran publik perempuan adalah sebuah ketidakadilan, sikap yang sangat subyektif, atau oleh beberapa orang dianggap sebagai corruption of knowledge (memanipulasi ilmu pengatahuan, tafsir dan fiqih). Karena sejak zaman Rasulullah bagitu banyak contoh kongkrit tentang perempuan-perempuan yang aktif menuntut ilmu dan membagi ilmunya ke hadapan publik. Menjadi ahli tafsir (Mufassirah) dan ahli hadits (Muhadditsah) yang juga bisa menyalurkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang mereka kuasai di madrasah-madrasah atau masjid-masjid pada masanya.
Berbagi peran dengan saling melengkapi dan mengisi akan melahirkan harmonisasi kehidupan. Tidak akan ada yang merasa superior atau inferior. Karena itu seperti Sachiko Murata, Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan Berbeda, berpendapat different/perbedaan itu adalah hal yang sulit untuk dimusnahkan. Jadi membiarkan berbeda untuk mencapai tujuan bersama akan terasa lebih indah dan tidak menimbulkan komplik berkepanjangan karena merasa selalu dipihak yang kalah ; perjuangan feminisme selalu melahirkan rasa marah yang berujung komplik karena merasa ada ketidakadilan yang dilakukan melalui nurture/kontruksi sosial, budaya dan lingkungan bahkan agama. Wallahu a’lam. (*Penulis adalah Wakil Ketua Umum PP Muslimat Dewan Da'wah)