Wajah Munafik Peradaban Barat
muslimatdewandakwah
Oleh: Syarifah Syahidah*
Isu terorisme sering dibalut standar ganda. Ketika seorang Muslim melakukan tindak kekerasan, seketika dunia Barat geger. Label teroris cepat disematkan. Bahkan agama Islam pun ikut diseret, seakan-akan setiap Muslim identik dengan terorisme.
Namun, ketika pelaku berasal dari pihak lain, rajin ke gereja, dan jelas bukan Muslim, tiba-tiba label itu hilang. Mereka tidak pernah menyebutnya “Christian terrorist” atau “teroris Barat”. Paling banter disebut “pelaku kriminal", “lone wolf”, atau orang dengan gangguan jiwa.
Inilah wajah standar ganda peradaban Barat. Mereka mengatur bahasa, mengatur opini, bahkan mendikte dunia dengan narasi penuh kepalsuan. Menciptakan bias dalam opini publik dan media seolah ada hierarki dalam penderitaan dan dalam siapa yang layak disebut ancaman. Akibatnya terorisme dipersepsikan bukan sebagai tindakan kekerasan universal yang mengancam kemanusiaan, melainkan sebagai isu politik identitas yang sarat kepentingan.
Rekam Jejak Teror Barat
Kalau mau jujur, sejarah kelam peradaban Barat justru dipenuhi dengan teror dalam skala jauh lebih besar:
- Perang Dunia I dan II yang menelan puluhan juta jiwa.
- Penjajahan berabad-abad yang merampas kekayaan negeri-negeri Asia dan Afrika.
- Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membunuh ratusan ribu jiwa seketika.
- Perang Vietnam, Irak, Afghanistan, Palestina yang penuh darah dan kehancuran.
Namun semua itu tidak pernah mereka sebut sebagai terorisme. Mereka lebih senang menuding Islam, sembari menutupi kejahatan mereka sendiri.
Krisis Moral di Balik Kemajuan Teknologi
Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, dalam bukunya Wajah Peradaban Barat menjelaskan bahwa Barat memang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi rapuh dalam nilai dan moral. Trauma sejarah mereka terhadap gereja melahirkan sekularisme: agama dibuang dari ruang publik, tinggal urusan pribadi[^1].
Akibatnya lahirlah:
- Relativisme: tidak ada kebenaran mutlak.
- Humanisme: manusia jadi pusat segalanya, menyingkirkan Tuhan.
- Hedonisme: hidup hanya untuk mengejar kesenangan.
- Krisis keluarga: perceraian, free sex, LGBT, narkoba merajalela.
Seperti yang ditegaskan Dr. Adian:
“Peradaban Barat modern adalah peradaban yang mengalami krisis spiritual dan moral. Ia maju dalam aspek materi, tetapi hancur dalam nilai-nilai kemanusiaan yang sejati.”[^2]
Peradaban Islam: Alternatif yang Memuliakan Manusia
Berbeda dengan Barat, Islam hadir membawa peradaban yang memuliakan manusia. Islam tidak memisahkan iman, akhlak, dan syariat dari kehidupan. Islam menegakkan keadilan, bukan berdasarkan hawa nafsu manusia, tapi hukum Allah. Islam menjaga kesucian jiwa, akal, harta, dan keturunan dengan syariat yang jelas. Islam meletakkan kebenaran mutlak pada wahyu, bukan opini manusia yang berubah-ubah. Islam membangun peradaban berimbang: maju dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam iman dan akhlak.
“Peradaban Islam adalah peradaban wahyu, yang meletakkan Allah sebagai pusat. Karena itu, ia memuliakan manusia dengan menempatkannya sesuai fitrahnya sebagai hamba Allah.” Demikian tulis Dr. Adian. [^3]
Inilah keunggulan peradaban Islam: sebuah peradaban yang bukan hanya menguasai teknologi, tapi juga memuliakan martabat manusia dengan aturan yang agung dari Allah ﷻ.
Maka, di tengah wajah munafik peradaban Barat, umat Islam wajib bersyukur atas nikmat iman. Sebab hanya dengan Islam, manusia akan menemukan kebenaran sejati, kedamaian hidup, dan peradaban yang mulia.
*Penulis: Daiyah MC Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)
Catatan Kaki :
[^1]: Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 45.
[^2]: Ibid., hlm. 210.
[^3]: Ibid., hlm. 275.