Nabi Muhammad Lahir, Eropa dalam Kegelapan
muslimatdewandakwah
Oleh: Syarifah Syahidah*
Tahun 571 M, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai ‘Āmul Fīl (Tahun Gajah), adalah tahun lahirnya manusia agung, Nabi Muhammad ﷺ. Pada saat cahaya kenabian itu bersinar dari Jazirah Arab, Eropa justru berada dalam kegelapan politik, sosial, dan intelektual.
Kelahiran Nabi Muhammad merupakan titik balik sejarah: Jazirah Arab yang dahulu dilupakan menjadi pusat cahaya dunia, dan dari sinar inilah cahaya Islam menyebar dan menembus jantung Eropa.
Eropa: Dari Runtuhnya Romawi Menuju Zaman Kegelapan
Sejak keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat pada 476 M, Eropa memasuki masa yang dikenal para sejarawan sebagai The Dark Ages atau Zaman Kegelapan. Kekuasaan pecah ke dalam kerajaan kecil yang dipimpin suku-suku barbar: bangsa Frank di Perancis, Visigoth di Spanyol, Ostrogoth di Italia, dan Anglo-Saxon di Inggris. Kekacauan politik dan perang antar suku menjadi wajah keseharian.
Satu-satunya kekuatan besar di kawasan itu hanyalah Kekaisaran Bizantium di timur, berpusat di Konstantinopel. Namun Bizantium pun terus-menerus bertikai dengan Persia Sassanid, sehingga tidak mampu membawa stabilitas. Dengan kata lain, Eropa saat itu miskin ilmu, miskin kebudayaan, dan tenggelam dalam kebodohan.
Edward Gibbon menggambarkan periode ini sebagai “masa suram peradaban” dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire.[^1] Will Durant dalam The Story of Civilization menambahkan bahwa abad ke-6 M di Eropa dipenuhi perang, barbarisme, dan keterbelakangan ilmu.[^2]
Kekuasaan Gereja dan Kebekuan Intelektual
Di Eropa Barat, Gereja Katolik Roma menjadi otoritas utama. Namun, kekuasaan itu sering bercampur dengan kepentingan politik. Dogma-dogma yang jauh dari tauhid Nabi Isa ‘alaihissalam dipaksakan kepada rakyat. Ilmu pengetahuan hanya dimonopoli oleh kalangan gereja, sementara rakyat banyak hidup dalam kebodohan dan kemiskinan.
Bagi Eropa, abad ke-6 M adalah masa kehilangan arah. Tidak ada peradaban yang hidup, hanya kekuasaan yang saling bertikai di bawah bayang-bayang gereja.
Jazirah Arab: Jahiliah Bukan Tanpa Aturan
Sebaliknya, Jazirah Arab memang disebut sebagai masa jahiliah. Namun, penting dicatat: jahiliah bukan berarti tanpa aturan atau tanpa budaya. Bangsa Arab memiliki tradisi luhur: menjunjung tinggi kehormatan, setia pada janji, murah hati, dan kaya dengan sastra. Kota Makkah bahkan menjadi pusat perdagangan internasional, menghubungkan Yaman, Syam, dan kawasan sekitarnya.
Philip K. Hitti menyebut bangsa Arab memiliki “modal peradaban” yang kelak disempurnakan dengan Islam.[^3] Karen Armstrong menambahkan bahwa dari gurun yang sederhana itu lahir revolusi spiritual dan intelektual yang mengubah wajah dunia.[^4]
Namun, “jahiliah” bermakna menolak hukum Allah. Mereka memiliki budaya, tetapi menolak tauhid. Bukti nyata adalah sikap para pemuka Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ.
Kabinet Abu Jahal: Menolak Risalah Allah
Sejak awal dakwah Rasulullah ﷺ, Abu Jahal bersama tokoh-tokoh Quraisy membentuk “kabinet perlawanan”. Mereka membuat keputusan-keputusan untuk:
Menghina dan mengejek Rasulullah ﷺ.
Menyebarkan fitnah dan tuduhan palsu.
Menghalangi orang-orang yang hendak mendengarkan Al-Qur’an.
Menertawakan ajaran tauhid, bahkan menjelek-jelekkan Al-Qur’an dengan menyebutnya sihir.
Inilah hakikat jahiliah: bukan karena tidak ada aturan, melainkan karena menolak aturan Allah.
Cahaya dari Makkah untuk Dunia
Ketika Eropa tenggelam dalam kegelapan intelektual dan sosial, dan Arab berada dalam jahiliah akidah, lahirlah Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi semesta alam. Risalah beliau menegakkan kembali tauhid, menumbuhkan ilmu, dan melahirkan peradaban yang kelak menyinari dunia—bahkan Eropa yang saat itu terbenam dalam kegelapan.
*Penulis : Daiyah MC Muslimat Dewan Dakwah Islamiah indonesia (DDII)
Catatan Kaki
[^1]: Edward Gibbon, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire.
[^2]: Will Durant, The Story of Civilization.
[^3]: Philip K. Hitti, History of the Arabs.
[^4]: Karen Armstrong, Islam: A Short History.