PP Muslimat Dewan Da'wah Segarkan Semangat Da'iyaat dengan Pelatihan Jurnalistik.
Redaksi
Jakarta. muslimatdewandakwah,id- PP Muslimat Dewan Da'wah adakan Pelatihan Jurnalistik berseri untuk segarkan semangat da'wah para da'iyaat Muslimat. Pelatihan dibimbing langsung oleh Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia Bapak Dr. Adian Husaini. Selasa 22 Juli 2025.
Bertempat di ruang kantor Ketua Umum Dewan Da'wah, Kramat Raya 45, para Da’iyaat Muslimat Dewan Da'wah, kembali mendapatkan arahan dan bimbingan, agar bisa optimalisasi sarana dan prasarana da’wah di era digital.
Improve dan Inovasi dalam da’wah sangat diperlukan. Materi dan metodologi perlu penyesuaian dengan kondisi zaman. Digitalisasi da’wah hampir menjadi keniscayaan apalagi menghadapi gen ‘Z’.
Menurut pak Adian, jika da’wah menjadi kewajiban personal sebagian orang maka segala cara untuk sampai pada terlaksana nya da’wah ila Allah menjadi wajib diketahui, dipelajari dan dipergunakan. Profesional/syumuliyah dalam da’wah menjadi tuntutan.
“Profesional dalam da’wah adalah ketika kita mampu berkomunikasi dengan mad’u (audiens) baik lisan maupun tulisan”, kata pak Adian.
Da’wah tidak harus terfokus pada berceramah di forum ta’lim atau di mimbar dan podium. Sesuai dengan perkembangan zaman banyak hal yang bisa dipergunakan untuk berda’wah termasuk dalam hal ini da’wah bilkitabah (da’wah dengan tulisan).
"Memang hal ini tidak mudah, butuh proses dalam mengamalkannya. Pak Natsir sendiri butuh belajar kepada A. Hassan untuk bisa menjadi seorang penulis", lanjut pak Adian.
Da’wah dengan tulisan saat ini bukan lagi menjadi hal yang sulit terlebih dengan berkembangnya teknologi digital dimana media sudah banyak yang beralih menjadi online dan hampir semua institusi bisa membuat sendiri medianya. Apalagi ditambah dengan semakin masifnya media sosial yang merambah dan menembus ruang dan waktu.
Da'wah bil kitabah memerlukan keahlian karena itu harus dilatih dan dipelajari. Disamping itu da'wah bil kitabah setidaknya memenuhi beberapa kriteria agar bisa tepat sasaran. Jika dianalogikan dengan berita kriteria yang harus dipenuhi antara lain; a) harus bisa memilah segmen (kelompok masyarakat yang dituju); b) tulisan hendaknya memiliki magnitudo untuk mengundang animo masyarakat; c) harus memperhatikan dampak dari tulisan (seberapa besar efeknya di tengah masyarakat); d) melihat faktor kedekatan (lokasi,.emosi, dsb) dengan segmen yang dituju; e) memiliki nilai ood news (sesuatu yang janggal/aneh); f) memiliki nilai kebaruan, bukan mengulang berita yang sudah ada; g) ada konflik didalamnya; h) memiliki faktor ketokohan (pelaku yang diberitakan adalah seorang tokoh); i) memiliki unsur seksual.
Maka bagaimana da’wah bisa dikemas dalam tulisan sehingga hampir bisa memenuhi unsur-unsur di atas. Sehingga menarik minat unutk membacanya.
Disamping itu sumber dalam tulisan juga menjadi hal yang penting. Perlu hendaknya bagi penulis untuk mencantumkan referensi/Sumber dalam semua tulisannya agar memiliki nilai dan bobot.
Terkait hal ini maka sumber yang diperlukan dalam sebuah tulisan ada 3 yaitu: -pancaindra; segala hal yang disampaikan bisa dialami sendiri atau dialami langsung oleh narasumber yang kita angkat (emperical knowledge); -sumber yang shahih (khabar shadiq) bukan hoax atau fiktif; -memenuhi unsur logis yang universal artinya sesuai dengan akal dan pengetahuan orang pada umumnya (diluar wahyu-penulis)
Peserta pelatihan langsung diarahkan untuk praktek menulis. Rencana pelatihan ini akan berlanjut kedepan dalam beberapa edisi. HDS