Bisa Jadi Ini Ramadhan Terakhirku
Hartini Dg. Saido, M. H
Judul di atas adalah tema yang diangkat dalam silaturrahim keluarga besar Dewan Da'wah Islamiyyah Indonesia, dengan para muhsinin yang selama ini menjadi mitra LAZNAS, jamaah masjid dan simpatisan Dewan Da'wah. Acara yang dikemas bersamaan dengan Tarhib Ramadhan, Senen 11 Maret 2024, dihadiri oleh hampir 1000 jamaah (muslim dan muslimat dari Jabodetabek), memenuhi aula lantai 2, ruang masjid, balkon lantai 3, teras dan tangga-tangga mesjid al Furqan. Acara berlangsung dari jam 9.30 sampai menjelang dhuhur. Mengundang al Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc sebagai penceramah dan dibuka oleh Ketua Umum Dewan Da'wah Bapak Dr. Adian Husaini, M. Si.
"Meskipun saat ini sebagian umat Islam di Indonesia sudah ada yang melaksanakan puasa lebih dulu. Tapi perbedaan itu jangan sampai menjadikan ummat terpecah belah. Karena sejatinya perbedaan berkaitan dg penentuan tanggal awal dan akhir Ramadhan (hari raya Idhul Fitri) sudah menjadi tradisi di tengah umat," demikian sambutan Ustadz Adian.
Sedangkan Ustadz M. Nuzul Dzikri, Lc di awal ceramahnya menyampaikan hadits tentang ciri-ciri orang munafik.
ايةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: Ciri orang munafik ada tiga, (yaitu): Apabila bicara, dusta; apabila berjanji, ingkar, dan apabila dipercaya, khianat. (HR. Imam Bukhari)
Menurut ustadz M. Nudzul Dzikri selain tiga ciri di atas, salah satu indikasi yang bisa menunjukkan ciri seseorang sebagai orang munafiq adalah seseorang yang mau dan mengklaim diri mau beribadah tapi tidak ada persiapan untuk itu. "Makanya seseorang yang ingin maksimal beribadah di bulan Ramadhan tapi tanpa persiapan adalah omong kosong/bohong belaka", kata beliau.
Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa mentalitas panjang angan-angan (طول العمل) yaitu seseorang yang selalu merasa bahwa umurnya masih akan panjang dan masih akan banyak waktu dan hal yang bisa dikerjakan ke depan adalah penyebab seseorang tidak mempersiapkan fisik dan jiwa/mentalnya, tidak memiliki tekad yang kuat menghadapi dan meraih keberkahan bulan Ramadhan.
Panjang angan-angan (طول المل) adalah mentalitas yang suka menunda-nunda untuk berbuat kebaikan (mental nanti-nanti/mental ntar-ntar), adalah pengaruh dari tentara-tentara iblis yang sangat dahsyat. "Merupakan model tipuan iblis selama berabad-abad" (Anas bin Malik). Orang dengan ciri mentalitas panjang angan-angan selalu menunda-nunda pekerjaan dan selalu punya cara untuk mencari pembenaran pada dirinya atas kelalaiannya.
Misalnya, kata beliau, karena sibuk dengan pekerjaan atau bisnis, bertemu klien dsb, di hari pertama Ramadhannya, seseorang merasa bahwa masih ada waktu besok untuk melaksanakan ibadah atau sekedar membaca Al-Qur'an, hari pertama target 1 juz terlewati, kemudian bertekad akan menebus di hari kedua, padahal dengan begitu sesungguhnya orang tersebut hanyalah orang yang berangan-angan seolah-olah umurnya masih akan panjang dan yakin hari esok masih bersamanya. Padahal jika 1 juz saja terlewati, logikanya 2 juz tentu akan lebih berat untuk dikerjakan. Orang seperti ini selalu merasa masih ada waktu untuk menebus semua yang dia lewatkan.
Padahal konsep Nabi dalam beribadah adalah فصلى صلاة موالضع " Shalatlah engkau seolah-olah itu adalah shalat perpisahanmu dengan dunia"
Sejalan dengan itu Muadz bi Jabal memberi nasehat kepada anaknya: "Wahai anakku shalatlah!, seakan-akan ini adalah shalat terakhirmu di dunia dan jangan berpikir bahwa engkau akan bertemu lagi dengan shalat itu di dunia. Ketahuilah wahai anakku mukmin itu meninggal di antara dua kebaikan حسنة قدمها dan حسنة اخرها. (amal sholeh yang telah dikerjakan dan amal sholeh yang akan dikerjakan).
Konsep ini jika diterapkan dalam menjalani ibadah bulan suci Ramadhan maka in sya Allah niat meraih berkah amal di bulan suci akan sukses. Seorang muslim akan memaximalkan potensi lahir batin. Jika tidak, maka Ramadhan yang tanpa persiapan akan berlalu dengan sia-sia. Kesia-siaan yang akan terus berulang setiap kita berada dalam bulan Ramadhan. Akhirnya, kita hanya meraih predikat sebagai alumni Ramadhan tanpa berkah dan pahala yang diraih.
Karena itu mari kita bersiap-siap dan bersikap seolah² INI RAMADHAN TERAKHIRKU yg bisa kujalani. Karena tidak ada jaminan umur akan sampai pada Ramadhan berikutnya. Dengan merasa seperti ini maka kita memasuki Ramadhan dengan penuh hikmad dan full persiapan, memaximalkan segala kemampuan dalam memperbaiki ibadah kita, membaguskan amalan kita seolah² ini adalah Ramadhan terakhir dalam perjalanan hidup kita di dunia. Demikian Ustadz Muhammad Nudzul Dzikri.