Benarkah Masyarakat yang Tidak Peduli kepada Tuhan Lebih Bahagia?

Gambar Utama

Oleh: Syarifah Syahidah
(Da'iyah Muslimat Dewan Dakwah)

Pendahuluan

Belakangan ini, beredar pernyataan bahwa masyarakat di negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Islandia merupakan masyarakat paling bahagia di dunia meskipun tingkat religiositas mereka relatif rendah. Dari fakta tersebut, sebagian orang kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memerlukan agama atau Tuhan untuk hidup bahagia.

Kesimpulan seperti ini perlu dikaji secara lebih hati-hati. Apakah benar penelitian tersebut membuktikan bahwa kebahagiaan muncul karena masyarakat tidak peduli kepada Tuhan? Ataukah ada faktor-faktor lain yang lebih dominan?

Apa yang Sebenarnya Diteliti?

Laporan World Happiness Report, yang diterbitkan setiap tahun di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memang secara konsisten menempatkan negara-negara Skandinavia pada peringkat teratas sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi.

Namun, penting dipahami bahwa laporan tersebut tidak mengukur keimanan atau kedekatan seseorang kepada Tuhan. Penilaiannya didasarkan pada sejumlah indikator, antara lain:

  • pendapatan per kapita,
  • harapan hidup yang sehat,
  • dukungan sosial,
  • kebebasan dalam menentukan pilihan hidup,
  • tingkat kepercayaan terhadap sesama,
  • rendahnya korupsi,
  • serta kemurahan hati masyarakat.

Dengan demikian, laporan tersebut mengukur kesejahteraan dan kepuasan hidup, bukan membuktikan bahwa agama tidak diperlukan.

Penelitian Phil Zuckerman

Sosiolog Prof. Phil Zuckerman dalam bukunya Society Without God (2008) meneliti masyarakat Denmark dan Swedia yang memiliki tingkat religiositas rendah. Ia mengamati bahwa masyarakat tersebut tetap mampu membangun kehidupan sosial yang tertib, aman, dan sejahtera.

Namun, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa meninggalkan Tuhan adalah penyebab kebahagiaan. Dalam metodologi ilmiah dikenal kaidah penting bahwa korelasi tidak sama dengan hubungan sebab-akibat (correlation does not imply causation). Dua hal dapat terjadi bersamaan tanpa salah satunya menjadi penyebab yang lain.

Pandangan Islam

Islam tidak menolak kenyataan bahwa masyarakat non-Muslim dapat mencapai kemajuan, kemakmuran, dan stabilitas sosial.

Allah Ta'ala berfirman:
"Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari karunia Tuhanmu." (QS. Al-Isra': 20)

Ayat ini menunjukkan bahwa sunnatullah berlaku bagi seluruh manusia. Kerja keras, disiplin, kejujuran, keadilan, dan tata kelola yang baik akan menghasilkan kemajuan dunia, tanpa memandang agama seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun muslim."

Maksudnya, keadilan merupakan sebab tegaknya kehidupan masyarakat di dunia.

Kebahagiaan Menurut Islam

Meskipun demikian, Islam memandang bahwa kebahagiaan tidak berhenti pada kesejahteraan material.

Allah Ta'ala berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Dan firman-Nya:
"Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) mencakup ketenangan hati, qana'ah, keberkahan, dan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan seperti ini tidak selalu identik dengan kekayaan atau kenyamanan lahiriah.

Pelajaran bagi Kaum Muslimin

Fenomena negara-negara Skandinavia hendaknya menjadi bahan muhasabah. Banyak nilai yang membuat masyarakat mereka maju justru merupakan ajaran Islam, seperti kejujuran, amanah, disiplin, menghargai waktu, serta menjunjung keadilan.

Ironisnya, sebagian kaum Muslimin justru lalai mengamalkan nilai-nilai tersebut, padahal Islam datang untuk menyempurnakan akhlak dan membangun peradaban.

Karena itu, solusi bagi umat bukanlah meninggalkan agama, melainkan menghidupkan kembali ajaran Islam secara utuh: menguatkan tauhid sekaligus menegakkan amanah, keadilan, ilmu, kerja keras, dan akhlak mulia.

Penutup

Tidak tepat mengatakan bahwa masyarakat menjadi bahagia karena mereka tidak peduli kepada Tuhan. Yang lebih sesuai dengan fakta ilmiah adalah bahwa mereka memperoleh kesejahteraan dunia melalui tata kelola yang baik, budaya disiplin, kepercayaan sosial yang tinggi, dan institusi yang kuat.

Islam mengakui pentingnya semua faktor tersebut, namun menambahkan satu dimensi yang tidak dapat diukur oleh survei kebahagiaan mana pun, yaitu iman kepada Allah, ketenangan hati, keberkahan hidup, dan keselamatan di akhirat.

Seorang Muslim tidak cukup mengejar kebahagiaan dunia semata, tetapi juga mengharapkan kebahagiaan yang kekal sebagaimana doa yang diajarkan Allah:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)

Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:
"Di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga di akhirat."

Beliau menjelaskan bahwa "surga dunia" adalah kenikmatan mengenal Allah, mencintai-Nya, mengingat-Nya, serta merasa tenteram dengan kedekatan kepada-Nya. Inilah kebahagiaan hakiki yang tidak dapat diukur hanya dengan indikator materi, tetapi dirasakan oleh hati yang dipenuhi iman.

Referensi

  1. Phil Zuckerman, Society Without God: What the Least Religious Nations Can Tell Us About Contentment, New York University Press, 2008.
  2. World Happiness Report (edisi terbaru).
  3. Al-Qur'an al-Karim: QS. Al-Isra': 20; QS. Ar-Ra'd: 28; QS. An-Nahl: 97; QS. At-Taubah: 55; QS. Al-Baqarah: 201.
  4. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa.
  5. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Dar 'Alam al-Fawa'id.

Lainnya Tentang Tsaqafah

Gambar utama 'Usia 40 Tahun'

Usia 40 Tahun

Gambar utama 'Akhir Zaman dan Hilangnya Keberkahan'

Akhir Zaman dan Hilangnya Keberkahan

Gambar utama '1 Muharram 1448 H: Tahun Baru, Semangat Hijrah Baru'

1 Muharram 1448 H: Tahun Baru, Semangat Hijrah Baru

Gambar utama 'Al-Qur'an dan Sejarahnya'

Al-Qur'an dan Sejarahnya

Gambar utama 'Puasa dan Penegakan Hukum'

Puasa dan Penegakan Hukum

Gambar utama 'Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman'

Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman

Lihat Semua

Artikel Terbaru

Gambar utama 'Usia 40 Tahun'

Usia 40 Tahun

Gambar utama 'Akhir Zaman dan Hilangnya Keberkahan'

Akhir Zaman dan Hilangnya Keberkahan

Gambar utama 'Jangan Mempopulerkan Kemaksiatan Demi Konten'

Jangan Mempopulerkan Kemaksiatan Demi Konten

Gambar utama 'BMIWI Gelar Milad ke-59 dan Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional'

BMIWI Gelar Milad ke-59 dan Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional

Gambar utama 'Surat Terbuka tentang Keprihatinan atas Masifnya Penyebaran Gagasan LGBTQ'

Surat Terbuka tentang Keprihatinan atas Masifnya Penyebaran Gagasan LGBTQ

Gambar utama 'Karpet Merah LGBTQ, Quo Vadis Institusi Pendidikan Tinggi Kita?'

Karpet Merah LGBTQ, Quo Vadis Institusi Pendidikan Tinggi Kita?