Dari Gelap Menuju Terang

Gambar Utama

Oleh : Syarifah Syahidah*

Di tengah kehidupan manusia, ada masa-masa ketika hati dipenuhi kebingungan, ketakutan, dan kehilangan arah. Seseorang bisa saja hidup di tengah kemajuan ilmu, kemewahan dunia, dan keramaian manusia, namun tetap berada dalam “gelap”, gelap karena jauh dari petunjuk, gelap karena kebodohan, gelap karena hawa nafsu, gelap karena putus asa, atau gelap karena kesesatan dalam memberikan penilaian terhadap sesama muslim.

Dalam keadaan itulah Allah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al-Qur'an, Surat Surat Al-Baqarah ayat 257:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”

Ayat ini juga mengandung penghiburan besar bagi orang yang sedang mencari jalan hidup. Seseorang tidak harus langsung sempurna untuk mendapatkan cahaya. Yang penting adalah mau beriman, mau mencari kebenaran, dan mau mendekat kepada Allah. Karena yang mengeluarkan manusia dari gelap bukan semata kekuatan dirinya, tetapi pertolongan Allah sendiri.

Dalam konteks berjamaah, kaum muslimin tidak akan menjadi kuat hanya dengan merasa diri paling benar sambil sibuk membuka aib saudaranya sendiri.

Umat ini juga tidak akan menjadi baik apabila kemungkaran, bid’ah, khurafat, serta berbagai penyimpangan dibiarkan terus hidup atas nama tradisi, budaya, atau toleransi yang keliru.

Islam datang bukan untuk mempertahankan semua kebiasaan manusia, tetapi untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya petunjuk Allah. Karena itu siapa pun yang mengajak manusia kepada Allah wajib terlebih dahulu mau berbenah, memperbaiki niat, ilmu, dan akhlaknya.

Bagi kalangan yang selama ini dikenal sebagai Ahlussunnah wal Jamaah atau kaum tradisional, sudah saatnya ada keberanian untuk membersihkan diri dari berbagai praktik yang nyata bertentangan dengan tauhid dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Perdukunan berkedok agama, meminta pertolongan kepada penghuni kubur, keyakinan-keyakinan yang mengandung kesyirikan, ritual yang tidak memiliki tuntunan yang jelas dari Nabi ﷺ, campur baur kemaksiatan dalam acara keagamaan, hingga pembelaan membabi buta kepada tokoh hanya karena fanatisme golongan, semua itu bukan kemuliaan Islam dan tidak boleh diwariskan seolah-olah bagian dari agama.

Tidak sedikit umat awam akhirnya bingung membedakan mana ajaran Islam yang murni dan mana kebiasaan manusia yang dibungkus simbol agama. Padahal agama ini telah sempurna. Allah tidak membutuhkan tambahan ritual buatan manusia untuk menyempurnakan syariat-Nya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dakwah seharusnya mengajak manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari syirik menuju tauhid, dari hawa nafsu menuju ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Dakwah bukan sekadar menjaga tradisi turun-temurun jika ternyata bertabrakan dengan dalil yang shahih.

Namun di sisi lain, sebagian saudara kita yang bersemangat memurnikan tauhid dan sunnah juga perlu terus menjaga hati dan memperbaiki adab. Jangan sampai semangat membela sunnah berubah menjadi ujub, merasa diri paling selamat, mudah menvonis sesat, atau merendahkan kaum muslimin lainnya.

Kebenaran tidak hanya tampak pada semangat berbicara, tetapi juga pada kelembutan hati, keikhlasan niat, dan kasih sayang kepada umat.

Label seperti “ustadz sunnah”, “kajian sunnah”, atau “masjid sunnah” pada asalnya lahir dari semangat untuk membedakan dakwah yang berusaha kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dari berbagai penyimpangan.

Jika dakwah tidak disertai tawadhu dan hikmah, sebagian manusia bisa memahaminya sebagai sikap eksklusif yang menjauhkan hati mereka dari inti dakwah itu sendiri. Padahal Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling benar aqidahnya sekaligus paling lembut akhlaknya. Beliau tidak pernah sombong dengan ilmu, tidak kasar dalam menasihati, dan tidak menjadikan dakwah sebagai sarana meninggikan diri di atas manusia lain.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Di surah lain Allah juga berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Maka kewajiban kita adalah saling menasihati dengan ilmu, adab, kesabaran, dan keikhlasan. Bukan saling menjatuhkan demi memenangkan kelompok. Yang masih tenggelam dalam bid’ah hendaknya mau kembali kepada dalil. Yang sudah belajar sunnah hendaknya semakin rendah hati. Yang memiliki ilmu hendaknya semakin takut kepada Allah. Dan yang masih awam hendaknya terus belajar tanpa fanatik buta kepada siapa pun.

Ukuran keselamatan bukan sekadar ada pada  nama kelompok, organisasi, pakaian, atau label tertentu. Ukuran keselamatan adalah sejauh mana seseorang ikhlas mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman para sahabat رضي الله عنهم. Imam Malik رحمه الله berkata:

“Setiap orang bisa diambil dan ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini.”
Beliau menunjuk kepada kubur Nabi ﷺ.

Perkataan ini mengajarkan bahwa tidak ada tokoh, kyai, ustadz, habib, syaikh, atau kelompok yang ma’shum. Yang ma’shum hanyalah wahyu Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Karena itu seorang muslim harus mencintai kebenaran lebih daripada fanatisme golongan.

Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan perdebatan tanpa akhir di media sosial. Umat ini akan bangkit jika tauhid diperbaiki, sunnah dihidupkan, ilmu dipelajari dengan benar, akhlak diperindah, dan hati dipenuhi rasa takut kepada Allah.

Kita membutuhkan dakwah yang tegas terhadap penyimpangan namun tetap lembut kepada manusia. Dakwah yang kuat dalam prinsip tetapi jauh dari kesombongan. Dakwah yang menghidupkan ilmu sekaligus mematikan fanatisme dan kebencian.

Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada jalan yang lurus, membersihkan hati kita dari kesyirikan, bid’ah, riya, dan kesombongan, serta mengumpulkan kaum muslimin di atas kebenaran dan ketakwaan.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan serta berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

*Penulis adalah Da'iyah Muslimat Dewan Da'wah.

Lainnya Tentang Kolom

Gambar utama 'Kohabitasi dan Tantangan Moral di Indonesia Merdeka.'

Kohabitasi dan Tantangan Moral di Indonesia Merdeka.

Gambar utama 'Palestina Memanggil: Jihad Fii Sabilillah '

Palestina Memanggil: Jihad Fii Sabilillah

Gambar utama 'Globalisasi dan Westernisasi Penjajahan melalui Pendidikan'

Globalisasi dan Westernisasi Penjajahan melalui Pendidikan

Gambar utama 'Zakat dan Pajak: Menyatukan Spritualitas dan Keadilan dalam Sistem Fiskal'

Zakat dan Pajak: Menyatukan Spritualitas dan Keadilan dalam Sistem Fiskal

Gambar utama 'Hati Nurani Manusia'

Hati Nurani Manusia

Gambar utama 'Spirit Idhul Fitri dalam Mewujudkan Clean and Good Government'

Spirit Idhul Fitri dalam Mewujudkan Clean and Good Government

Lihat Semua

Artikel Terbaru

Gambar utama 'Al-Qur'an dan Sejarahnya'

Al-Qur'an dan Sejarahnya

Gambar utama 'Berkah Ramadhan Muslimat Santuni Yatim dan Dhu'afa'

Berkah Ramadhan Muslimat Santuni Yatim dan Dhu'afa

Gambar utama 'Puasa dan Penegakan Hukum'

Puasa dan Penegakan Hukum

Gambar utama 'Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman'

Ketika Aturan Kaku Menjadi Wajah Baru dari Kedzoliman

Gambar utama 'Membantah Teori "Benturan Peradaban": Kepicikan Pandangan Samuel Huntington'

Membantah Teori "Benturan Peradaban": Kepicikan Pandangan Samuel Huntington

Gambar utama 'Hartini Dg Saido Terpilih Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Dewan Da'wah Periode 2025-2030'

Hartini Dg Saido Terpilih Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Dewan Da'wah Periode 2025-2030